—————–
Edisi Keluarga
—————–

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Dalam edisi yang lalu kita telah membahas keberadaan keluarga suami dan keluarga istri dalam kehidupan sepasang insan, serta apa yang semestinya dilakukan oleh masing-masing pada keluarganya maupun pada keluarga pasangannya. Bagaimana bila terjadi perselisihan antara suami dengan keluarganya, antara istri dengan keluarganya, antara suami dengan keluarga istri, atau antara istri dengan keluarga suami?
Yang sering terjadi adalah pertikaian dengan keluarga pasangan hidup, seperti suami berselisih dengan ayah mertuanya atau dengan ibu mertuanya, ataupun istri yang bermasalah dengan ayah atau ibu suaminya.

Antara Suami dengan Keluarga Istri

❓❓Bila seorang istri menghadapi pertikaian antara suami dan keluarganya, dalam hal ini ayahnya, di pihak siapakah istri harus berada?

✏Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menerangkan,

“Tidak diragukan bahwa seorang anak wajib memenuhi hak ayah, sebagai hak yang ditekankan. Dalam banyak ayat, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan anak untuk menaati ayah dalam hal yang ma’ruf dan berbuat baik kepadanya.

Demikian pula, hak suami merupakan hak yang wajib dan ditekankan untuk dipenuhi oleh istri.

Dari sini, ayah Anda punya hak terhadap Anda, demikian pula suami Anda punya hak terhadap Anda. Anda wajib memberikan hak kepada setiap yang memiliki hak.

Bila menghadapi pertikaian antara keduanya (ayah dan suami) sebagaimana Anda sebutkan dan Anda tidak tahu harus di pihak mana Anda berada, Anda wajib berpihak pada kebenaran.

✅Apabila suami Anda berada di pihak yang benar dan ayah Anda salah, maka Anda wajib berpihak kepada suami Anda dan menasihati ayah Anda.

✅Sebaliknya, bila ayah Andalah yang benar sedangkan suami Anda di pihak yang salah maka Anda wajib berpihak pada ayah Anda serta berupaya menasihati suami Anda.

Dengan demikian, kewajiban Anda adalah berpihak kepada kebenaran dan menasihati yang salah di antara keduanya.

Demikianlah posisi Anda yang semestinya dalam menghadapi pertikaian antara suami dan ayah Anda.

Upayakanlah untuk memperbaiki hubungan keduanya dan menyelesaikan permasalahan di antara keduanya semampu Anda.

Jadilah Anda sebagai kunci kebaikan dan penghilang perpecahan serta kerusakan yang ada. Dengan begitu, Anda akan beroleh pahala karena memperbaiki hubungan sesama manusia, terlebih lagi hubungan karib kerabat. Hal ini termasuk amalan ketaatan yang paling besar.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka kecuali bisikan orang yang memerintahkan untuk bersedekah, memerintahkan kepada yang ma’ruf, atau untuk memperbaiki hubungan di antara manusia.”
(An-Nisa’: 114)

Nasihat yang hendak kami sampaikan kepada kedua belah pihak (yaitu ayah mertua dan anak menantu) adalah
hendaknya keduanya bertakwa kepada Allah subahanahu wata’ala dan bermuamalah dengan ukhuwah Islamiah, serta dengan hak kekerabatan dan hubungan mertua-menantu yang terjalin di antara keduanya.
Hendaknya keduanya melupakan pertikaian yang terjadi, saling memaafkan satu dengan lainnya, karena demikianlah seharusnya sifat kaum muslimin.
Hendaknya keduanya tidak menuruti hawa nafsu atau mengikuti setan. Bahkan, hendaknya mereka memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wata’ala dari bisikan setan yang hendak menyimpangkan manusia.”
(al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh al-Fauzan, 3/68)

bersambung insya Allaah…

sumber: http://asysyariah.com/menyelesaikan-perselisihan-keluarga/

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
syarhus sunnah lin nisaa`

〰〰〰〰〰〰〰〰

Bagikan Komentarmu