lanjutan…

✅Bolehkah Tidak Mengunjungi Rumah Keluarga karena Mereka Sering Memicu Masalah?

Bila pihak keluarga sering menjadi sebab terjadinya masalah antara seorang suami dan istrinya, serta sering ikut campur dalam urusan keduanya, tidak apa-apa keduanya tidak mengunjungi rumah kerabat tersebut.
Misalnya, kerabat istri sering memengaruhi si istri saat ia berkunjung ke rumah mereka agar dia menuntut macam-macam kepada suaminya.
Atau, kerabat istri tersebut mencari-cari kesalahan si suami lalu menjelek-jelekkannya di hadapan si istri.
Bila seperti ini, sang suami berhak melarang istrinya mengunjungi keluarganya dalam rangka menutup jalan menuju kerusakan.
✅Adapun untuk menyambung silaturahim, si istri bisa melakukannya tanpa mendatangi mereka. Bisa dengan menulis surat atau telepon, jika cara ini tidak berdampak negatif.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.”
(at-Taghabun: 16)

Ada hadits yang berisi ancaman keras bagi orang yang merusak hubungan seorang istri dengan suaminya.
Abu Hurairah menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا

“Bukan termasuk golongan kami, orang yang merusak akhlak istri terhadap suaminya dan menjadi sebab nusyuz si istri.”
(HR. Abu Dawud no. 2175, disahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Dalam Aunul Ma’bud dijelaskan bahwa bukan termasuk pengikut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, orang yang merusak pikiran seorang istri dengan menghias-hiasi sikap permusuhan kepada suaminya. Misalnya, menceritakan kejelekan si suami di hadapan istrinya, atau menyebutkan kebaikan/memuji-muji lelaki lain di depan si istri.
(Kitab ath-Thalaq, bab Fi Man Khabbaba Imra’atan ‘ala Zaujiha)

✋Tidak mengunjungi keluarga yang suka merusak hubungan istri dengan suaminya atau sebaliknya ini, tidak berarti memutus hubungan dengan mereka sama sekali, atau tidak mau tahu keadaan mereka sebagai kerabat. Ketika bertemu semestinya tetap diucapkan salam kepada mereka, hak mereka dipenuhi dan hubungan tetap dijalin selain dengan berkunjung, hingga mereka berhenti dari perbuatan mereka yang buruk.

Ketika Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah ditanya tentang hukum melarang istri bersilaturahim kepada keluarganya, beliau memberikan arahan,
“Silaturahim itu wajib, sehingga seorang suami tidak boleh melarang istrinya menyambung hubungan rahimnya. Memutus silaturahim termasuk dosa besar. Seorang istri tidak boleh menaati suaminya dalam hal seperti ini, karena tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq. Si istri hendaknya tetap menyambung rahimnya dengan hartanya sendiri, atau mengirim surat kepada keluarganya dan mengunjungi mereka, kecuali bila kunjungan itu berakibat buruk kepada hak suami. Misalnya, suami mengkhawatirkan kerabat istrinya akan merusak hubungan istrinya dengannya. Bila seperti ini, ia berhak melarang istrinya mengunjungi keluarganya. Akan tetapi, si istri tetap menyambung hubungan dengan keluarganya tanpa mengunjungi mereka, dalam hal-hal yang tidak mengandung mafsadah. Wallahu a’lam.”
(al-Muntaqa, 3/180)

Demikianlah bimbingan ulama seputar hubungan suami istri dengan karib kerabat mereka dan solusi atas problem yang mungkin terjadi.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

selesai walhamdulillaah..

sumber: http://asysyariah.com/menyelesaikan-perselisihan-keluarga/

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
syarhus sunnah lin nisaa`

〰〰〰〰〰〰〰〰

Bagikan Komentarmu