🏵🏆 *MERAIH PAHALA*
*DENGAN BERSABAR* 🏆🏵

✍🏻 *Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin حفظه الله تعالى*

Tak ada seorang pun yang menginginkan hidup dalam keadaan sulit. Tidak ada seorang pun menginginkan musibah terjadi atas dirinya. Namun, kenyataan hidup berbeda dengan apa yang diinginkan oleh setiap manusia. *Hidup manusia tak selalu diwarnai dengan kebahagiaan dan kesenangan. Tidak pula hidup selalu diliputi kesuksesan. Terkadang manusia harus jatuh bangun menghadapi kehidupan.* Ia harus menghadapi sekian banyak cobaan. *Beruntunglah orang-orang yang sabar.*

🏰 *Apa Itu Sabar*❓
*Secara bahasa sabar* adalah

الْحَبْسُ وَالْمَنْعُ

Artinya, *menahan atau mencegah.* Adapun secara istilah dimaknai:

حَبْسُ اللِّسَانِ عَنِ التَّشَكِّي وَالتَّسَخُّطِ وَالنَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ وَالْجَوَارِحِ عَنْ لَطْم الْخُدُودِ وَشَقِّ الْجُيُوبِ

Artinya, *kemampuan seseorang untuk menahan lisan, mengendalikan diri (jiwa), serta menahan anggota tubuh dari memukul wajah dan merobek kerah baju (pakaian).* _(It-hafu al-’Uqul bi Syarhi Tsalatsati al-Ushul,_ asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri)

Penyebutan *“memukul wajah dan merobek kerah baju (pakaian)”* dalam definisi di atas *terkait dengan kebiasaan orang-orang Arab jahiliah (sebelum Islam datang) ketika ditimpa musibah kematian orang yang dicintai. Mereka menunjukkan perilaku memukul-mukul wajah dan merobek kerah baju. Ini dilakukan sebagai wujud kesedihan yang mendalam.*

Berdasar definisi di atas, *sabar memiliki tiga unsur pokok:* _pengendalian diri (jiwa),_ _pengendalian lisan,_ dan _pengendalian anggota tubuh._ *Kesabaran seseorang akan tecermin dari sejauh mana tingkat dan kemampuan dirinya* melakukan pengendalian diri, lisan, dan anggota tubuhnya.

*Seseorang belum dikatakan bersabar manakala* tangan atau kakinya melakukan aksi perusakan saat dirinya emosi menghadapi ketidakpuasan. *Dia melakukan tindakan agresif secara membabi buta.*

*Seseorang belum juga dikatakan bersabar manakala* dirinya ditimpa musibah lantas lisannya *mengeluarkan kata-kata kekufuran atau kesyirikan,* kata-kata tidak terpuji, umpatan atau sumpah serapah, caci maki, dan yang sejenis.

*Seseorang juga belum bisa dikatakan bersabar saat dirinya* didera musibah lantas jiwanya goncang dan hilang kontrol diri. *Dia tidak bisa mengendalikan diri dan justru menampakkan kemarahan serta sikap emosi.* Lebih dari itu, *dalam keadaan goncang, dirinya terjatuh pada perbuatan syirik atau bid’ah. Dirinya tak sabar menghadapi kesulitan hidup lantas mendatangi dan meminta-minta kepada yang ada di dalam kubur atau mendatangi dukun,* _wal ’iyadzu billah._

Maka dari itu, *seseorang bisa dikatakan bersabar manakala dirinya mampu mengendalikan dan mengontrol emosi, lisan, dan segenap anggota badannya saat menghadapi musibah atau situasi tidak menyenangkan yang menimpanya.* Ia tetap dalam garis ketaatan seraya tawakal (berserah diri) dan memohon pertolongan-Nya.

🏰 *Macam Kesabaran*
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله menyebutkan *bahwa kesabaran itu meliputi tiga macam.*

*_1. Bersabar dalam rangka menaati Allah سبحانه وتعالى._*
Ini sebagaimana difirmankan Allah سبحانه وتعالى,

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ

_“Perintahlah keluargamu untuk menegakkan shalat dan bersabarlah dalam menunaikannya.”_
*(Thaha: 132)*

Firman-Nya pula,

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ تَنزِيلًا (٢٣) فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ (٢٤)

_“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan al-Qur’an kepadamu secara bertahap, *maka bersabarlah dalam menetapi hukum Rabb-mu.”*_ *(al-Insan: 23—24)*

*Sabar dalam menaati Allah سبحانه وتعالى ialah bentuk kesabaran merealisasikan perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى.*

*_2. Bersabar dari berbuat(menahan) maksiat kepada Allah سبحانه وتعالى_*
Bentuk kesabaran ini sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Yusuf عليه السلام. Saat seorang wanita berkedudukan dan terpandang mengajaknya melakukan perbuatan maksiat, *Nabi Yusuf عليه السلام justru menghindar. Nabi Yusuf عليه السلام bersabar (menahan) diri agar tidak terseret pada perilaku durhaka.* Dia memilih untuk mendekam dalam penjara daripada harus melakukan kedurhakaan kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman mengungkapkan kisah itu,

قَالَ رَبِّ ٱلسِّجۡنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِۖ وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّي كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ

_“Yusuf berkata, ‘Wahai Rabbku, *penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.* Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh’.”_ *(Yusuf: 33)*

*_3. Bersabar atas segala takdir Allah سبحانه وتعالى._*
Allah سبحانه وتعالى berfirman,

فَٱصۡبِرۡ كَمَا صَبَرَ أُوْلُواْ ٱلۡعَزۡمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ وَلَا تَسۡتَعۡجِل لَّهُمۡۚ

_“Bersabarlah engkau (Muhammad) *sebagaimana kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan hati,* dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka.”_
*(al-Ahqaf: 35)*

Termasuk kesabaran ini ialah *kesabaran ketika menyampaikan risalah dan menghadapi berbagai gangguan yang dilancarkan oleh anggota masyarakat.*

🏰 *Ujian Hidup Pasti Ada*
Allah سبحانه وتعالى berfirman,

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٍ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ (١٥٥) ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ (١٥٦) أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧)

_“Dan Kami pasti akan *menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.* Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, *‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’* (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabbnya (yaitu, Allah سبحانه وتعالى) dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”_
*(al-Baqarah: 155—157)*

Di dalam ayat di atas, Allah سبحانه وتعالى menegaskan *bahwa setiap manusia akan mendapat ujian di dalam kehidupannya.* Ujian tersebut bisa dalam bentuk gagal panen, kehilangan modal usaha (harta), *kehilangan orang yang dicintai (kematian),* atau hilangnya rasa aman (ketakutan), dan lainnya.
Meski demikian, *orang-orang yang beriman akan menyikapi semua ujian hidup tersebut dengan penuh kesabaran. Orang yang beriman memiliki keyakinan bahwa musibah yang menimpanya akan memberikan kebaikan pada dirinya.* Betapa tidak, *dengan musibah itu dia harus bersabar. Manakala dirinya bisa bersabar, Allah سبحانه وتعالى akan memberikan pahala.*

*Misal, seseorang yang diuji oleh Allah سبحانه وتعالى dengan rasa sakit. Jika dirinya bersabar dengan apa yang menimpanya, niscaya dia akan mendapat ganjaran. Dia akan mendapat ampunan, yaitu dosa-dosanya dihapus dan mendapat rahmat dari Allah سبحانه وتعالى.*

Dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَاهَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

*_“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa kepayahan, sakit (yang berkepanjangan/lama), kecemasan (gundah), kesedihan, kesakitan, dan dukacita hingga (ditimpa musibah) tertusuk duri, kecuali Allah سبحانه وتعالى akan menghapuskan dosa-dosanya.”_* *(HR. al-Bukhari* no. 5642 dan *Muslim* no. 52, 2573)

Demikianlah, *ujian hidup itu pasti ada.* Dari Sa’d bin Abi Waqqash رضي الله عنه, ia berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ فَقَالَ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ رَقِيقَ الدِّينِ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ ذَاكَ، وَإِنْ كَانَ صُلْبَ الدِّينِ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ ذَاكَ. قَالَ: فَمَا تَزَالُ الْبَلَايَا بِالرَّجُلِ حَتَّى يَمْشِيَ فِي الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

*_”Saya bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah manusia yang paling berat mendapat ujian❓” Beliau menjawab, “Para nabi lalu yang semisal dengan mereka kemudian yang semisal dengan mereka. Seseorang akan mendapat ujian sesuai dengan keadaan agamanya. Jika agamanya kukuh, keras pula ujiannya._*

*_Apabila keadaan agamanya lemah, ia akan diuji sebanding dengan keadaan agamanya. Ujian itu tak akan terlepas dari seseorang hingga dirinya berjalan di muka bumi dengan tanpa dosa.”_* *(HR. Ahmad, at-Tirmidzi,* dan selainnya. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam _as-Silsilah ash-Shahihah_ no. 143)

🏰 *Sabar Menghadapi Ujian dalam Dakwah*
Saat Rasulullah ﷺ berupaya mengembangkan dakwah ke wilayah Thaif, yang beliau temui bukanlah sambutan yang baik. *Beliau bersama seorang sahabat mendapat cercaan, hinaan, dan kekerasan fisik. Beliau dilempari batu. Tubuh beliau yang mulia terluka. Dari wajah beliau mengucur darah. Mengajak manusia menuju kebaikan malah dibalas kejelekan.*

Betapa kejahilan yang begitu akut telah melekat pada masyarakat Thaif kala itu. Kejahiliahan yang ada pada mereka sedemikian menggulita sehingga tak mampu mencerna isi ajakan yang disampaikan manusia pilihan, Rasulullah ﷺ. *Hati mereka buta dan tuli, tiada mampu membedakan kebaikan dan keburukan.*

Meski demikian, *Rasulullah ﷺ tetap bersabar.* Lisan beliau terjaga, *tidak membalas umpatan dan caci maki* dengan yang semisal. Demikian pula *anggota tubuh beliau tak membalas* dengan balasan yang semisal. *Jiwa beliau tetap kokoh, tak lantas goncang, dan berputus asa dari menebar kebaikan. Kesabaran terhunjam kukuh pada diri beliau.*

Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه pernah bertutur *bahwa Nabi ﷺ pernah bercerita,*

*_“Ada seorang nabi dari kalangan nabi-nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim dipukul oleh kaumnya. Lantas mengucurlah darahnya. Nabi itu pun mengusap darah dari wajahnya seraya berdoa,_*

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

*_“Ya Allah, ampunilah kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”_* *(HR. al-Bukhari* no. 3477 dan *Muslim* no. 1792)

Dikisahkan pula dari Abu Abdillah Khabbab bin al-Aratt رضي الله عنه. Katanya,

أَتَيْنَا رَسُولَ اللهِ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ فَقُلْنَا: أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو اللهَ لَنَا؟ فَجَلَسَ مُحْمَرًّا وَجْهُهُ فَقَالَ قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُجْعَلُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ فِرْقَتَيْنِ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ عَظْمِهِ مِنْ لَحْمٍ وَعَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِه وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ اللهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ وَحَضْرَمُوتَ مَا يَخَافُ إِلَّا اللهَ تَعَالَى وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَعْجَلُونَ

*_”Kami mengeluh kepada Rasulullah ﷺ yang kala itu tengah berbantal dengan kain burdahnya di bawah Ka’bah. Kami sampaikan, “Mengapa engkau tidak memintakan tolong dan mendoakan kami_*❓” *_Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Ada seorang laki-laki yang hidup sebelum kalian ditangkap dan ditanam di dalam tanah. Kemudian gergaji diletakkan di kepalanya hingga terbelah kepala laki-laki itu menjadi dua._*

*_Dengan sisir dari besi, kepala itu disisir sehingga terkelupas daging dan tulangnya. Semua itu tak lantas memalingkan dirinya dari agamanya. Demi Allah, sungguh Allah سبحانه وتعالى akan menyempurnakan urusan ini (Islam) hingga orang yang berkendara dari Shan’a ke Hadramaut tidak ada yang ditakuti kecuali hanya Allah سبحانه وتعالى dan serigala yang mengancam kambingnya. Akan tetapi, kalian begitu tergesa-gesa.”_* *(HR. al-Bukhari,* no. 2943, 3852)

Demikianlah, *ujian itu akan senantiasa ada.* Telah menjadi tabiat dalam dakwah adanya beragam tantangan menghadang. *Terkhusus bagi para dai yang menyerukan dakwah salafiyah.* Beragam upaya untuk meruntuhkan sendi-sendi dakwah akan senantiasa dilakukan. Mulai dari upaya melakukan _taqrib,_ upaya mendekatkan antarjamaah, *hingga upaya pengaburan pemahaman* melalui berbagai media yang ada. *Mereka bersinergi untuk mengoyak dakwah nan mulia ini.*

*Mereka tuduh orang-orang yang bersikukuh di atas _manhaj_ yang haq sebagai kelompok garis keras* atau pernyataan yang semisal. Selama hawa nafsu mereka belum tercapai, *mereka akan terus menggerogoti dakwah ini dengan berbagai syubhat dan syahwat.* _Nas’alullahu as-salamah_ *(Kita memohon keselamatan kepada Allah سبحانه وتعالى).*

Terkait dengan ujian ini, Allah سبحانه وتعالى berfirman,

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ (٣)

_“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji lagi ❓ Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”_
*(al-Ankabut: 2—3)*

Dalam berbagai keadaan, *kesabaran harus senantiasa ada.* Saat menghadapi masalah, apabila tidak disertai kesabaran, niscaya akan bisa mengarah pada keadaan yang lebih buruk. *Dengan sikap sabar, seseorang akan mampu mengendalikan diri dan mengambil tindakan yang lebih baik* (dengan izin Allah سبحانه وتعالى). Sikap sabar akan mengantarkan seseorang pada kebaikan.

Disebutkan dari Abi Yahya Shuhaib bin Sinan رضي الله عنه *bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,*

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

*_“Menakjubkan untuk urusan yang menimpa seorang mukmin. Sungguh, seluruh urusannya membawa kebaikan. Tidaklah yang demikian itu bisa diperoleh seseorang kecuali hanya oleh seorang mukmin. Jika dirinya mendapatkan kesenangan lantas bersyukur, sikap syukurnya itu membawa kebaikan baginya. Jika dirinya ditimpa musibah lantas bersabar, sikap sabarnya itu membawa kebaikan baginya.”_*
*(HR. Muslim)*

*Dengan sikap sabar seseorang bisa meraup pahala nan tak terkira.*

_Wallahu a’lam._

🌏📕 *Sumber* ||

Meraih Pahala dengan Bersabar

🌏📕 *Sumber* ||
Majalah Asy Syariah Edisi 94