Al-Imam Ad-Darimi meriwayatkan bahwasanya Abdullah bin Mas’ud radiallahu’anhu menjumpai sekelompok manusia berkumpul di masjid membentuk lingkaran.

Masing-masing memegang kerikil-kerikil, dan di tengah mereka ada seseorang yang duduk dan mengatakan:

“Bertasbihlah kalian seratus kali! Bertahlillah seratus kali! Bertakbirlah seratus kali!”

Dengan kerikil-kerikil itu mulailah mereka menghitung dzikir (bersama-sama). Maka berdirilah Abdullah bin Mas’ud mengingkarinya seraya berkata:

“Apa yang kalian lakukan ini?”

Mereka menjawab:

“Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami menghitung takbir, tasbih dan tahlil dengan kerikil-kerikil ini.”

Berkatalah Ibnu Mas’ud radiallahu’anhu: “Hitung saja kesalahan-kesalahan kalian. Aku jamin kebaikan kalian tidak disia-siakan sedikitpun. Wahai umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, betapa celakanya kalian! Betapa cepatnya kehancuran kalian! (Bukankah) sahabat Nabi kalian masih banyak, dan pakaian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam belum lagi hancur? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah yang kalian lakukan ini berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, ataukah kalian telah membuka pintu-pintu kesesatan!?”

Mereka menjawab:

“Demi Allah! Wahai Abu Abdurrahman, tidaklah kami menginginkan kecuali kebaikan!”

Ibnu Mas’ud radiallahu’anhu berkata:

“Betapa banyak orang menginginkan kebaikan akan tetapi tidak mendapatkannya.”

‘Amr bin Salamah berkata:

“Sungguh kami melihat bahwa semua mereka yang berada di halaqah-halaqah tersebut memerangi kami di hari Nahrawan bersama barisan Khawarij.” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam As-Sunan dan dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah, 5/11, no. 2005)

Pertempuran Nahrawan adalah pertempuran besar antara Ali radiallahu’anhu dan Khawarij. Terbunuh pada perang ini tokoh-tokoh Khawarij, termasuk di antara mereka adalah orang-orang yang terlibat pembunuhan khalifah Utsman bin ‘Affan radiallahu’anhu.

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata menerangkan faedah dari riwayat Ad-Darimi ini: “Sesungguhnya bid’ah yang kecil akan mengantarkan kepada bid’ah yang besar.” (Ash-Shahihah, 5/11)

Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah (329 H) berkata:

“Berhati-hatilah dari perkara-perkara muhdats (bid’ah) yang kecil, karena bidah yang kecil akan menjadi besar. Dan demikianlah, semua kebid’ahan yang muncul di umat ini pada awalnya menyerupai kebenaran, maka tertipulah mereka yang masuk ke dalamnya, hingga kemudian tidak mampu untuk keluar darinya….” (Syarh As-Sunnah hal. 37)

Sumber: https://asysyariah.com/merangkai-faedah-dari-mutiara-sejarah/