​Nasehat nan Penuh Kenangan
🖊 (ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari)
🎓 Al-Imam Abu Dawud meriwayatkan dari shahabat yang mulia Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahuanhu, bahwa ia berkata: Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam menasihatkan kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati-hati kami dan air mata pun berlinang karenanya. Maka ketika itu kami mengatakan: “Duhai Rasulullah, nasihat ini seperti nasihat orang yang mau mengucapkan selamat tinggal, karena itu berilah wasiat kepada kami.” Beliau pun bersabda:
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, untuk mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak. Dan barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Karena itu wajib atas kalian untuk berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafa` Ar-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang erat-erat sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hati kalian dari perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru (bid’ah) itu sesat.” 
(HR. Abu Dawud no. 3991, At-Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no. 42)
🔖 Penjelasan Hadits

Al-Hafidz Abu Nu‘aim berkata: 
“Hadits ini jayyid (bagus), termasuk hadits yang shahih dari periwayatan orang-orang Syam.” 
🔈 Beliau juga mengatakan: 
“Al-Bukhari dan Muslim meninggalkan hadits ini (yakni tidak memuat dalam kitab shahih mereka) bukan karena mengingkarinya.”

Al-Hakim menyatakan, Al-Bukhari dan Muslim meninggalkan penyebutan hadits ini disebabkan anggapan yang keliru dari keduanya bahwa tidak ada seorang rawi pun yang meriwayatkan dari Khalid bin Ma’dan kecuali Ats-Tsaur bin Yazid, padahal sebenarnya ada perawi lain yang meriwayatkan dari Khalid seperti Buhair bin Sa’d, Muhammad bin Ibrahim At-Taimi dan selain keduanya.

Namun pernyataan Al-Hakim ini dijawab oleh Al-Hafidz Ibnu Rajab: “Sebenarnya hal ini tidaklah seperti persangkaan Al-Hakim. Adapun Al-Bukhari dan Muslim tidak mengambil hadits ini karena hadits ini tidak memenuhi syarat mereka berdua di dalam kitab shahihnya, di mana Al-Bukhari dan Muslim sama sekali tidak mengeluarkan dalam shahihnya riwayat dari Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulami dan dari Hujr Al-Kala’i. Dan juga dua orang rawi yang disebut ini tidaklah terkenal (masyhur) dalam keilmuan dan periwayatan hadits.”
💳 Adapun Abdurrahman As-Sulami, salah seorang perawi dalam hadits ini, maka ia masturul hal (keadaannya tidak diketahui), walaupun telah meriwayatkan darinya jama’ah (sekelompok orang) namun tidak ada seorang alim yang mu’tabar (teranggap dan diakui keilmuannya) yang men-tsiqah-kannya (menganggapnya terpercaya). Ibnul Qaththan Al-Fasi men-dha’if-kan (melemahkan) hadits ini karena hal tersebut.

Demikian pula dengan Hujr bin Hujr Al-Kala’i, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Khalid bin Ma‘dan dan tidak ada seorang alim yang mu’tabar yang men-tsiqah-kannya, sehingga ia dinyatakan majhulul ‘ain (rawi yang tidak dikenal). Ibnul Qaththan berkata: “Orang ini tidak dikenal.” Namun sebagaimana kata Al-Imam Al-Hakim di atas, hadits ini diriwayatkan juga dari selain mereka berdua dan disebutkan jalan-jalannya yang saling menguatkan satu dengan lainnya oleh Al-Hafidz Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum, maka hadits ini hasan. Penghasanan hadits ini dinyatakan oleh Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah, walaupun ada sebagian ulama yang menshahihkannya, sehingga mereka bersepakat bahwa hadits ini bisa dijadikan sebagai hujjah (dalil atau argumen), kecuali Ibnul Qaththan Al-Fasi yang men-dha’if-kan hadits ini. 
(As-Sunnah, Ibnu Abi ‘Ashim, no. 27, Ash-Shahihul Musnad, 2/71, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/110, Mizanul I’tidal, 2/207, Tahdzibut Tahdzib, 2/188, 6/215)
_*Http://asysyariah.com/nasehat-nan-penuh-kenangan/*_

🚀 Dipublikasikan oleh: 

👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC 

👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC
📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang

______________________________

_Bersambung ke bagian 2 insyaAllah_