Tanya:
Ustadz, saran ustadz tentang ma’had ahlussunnah yang menggunakan kurikulum pemerintah?

Jawab:
Oleh Al Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba’abduh hafizhahullah

Kalau yang dimaksud kurikulum pemerintah, ada dua. Ada yang menginduk ke diknas, dan ada yang menginduk ke kementrian agama. Menginduk ke diknas itu dalam bentuk SD, SMP, SMA. Kalau menginduk ke kementrian agama dalam bentuk Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah. Kalau yang menginduk ke diknas, pada kurikulumnya banyak kemungkaran-kemungkaran. Baik dalam bidang akhlaq, atapun dalam bidang iman dan manhaj. Dalam bidang akhlaq, dalam pelajaran sosial dikenalkan tentang pulau Bali (disana banyak tempat-tempat wisata), dalam pelajaran bahasa diperkenalkan dalam beberapa buku paketnya itu (berbeda-beda, entah pelajaran bahasa atau pelajaran sosial):

“Bahwa di Jawa Timur, di salah satu kota yang bernama Blitar, terletak disana makam presiden pertama Indonesia, yaitu presiden Soekarno. Orang pada berdatangan berziarah ke kubur atau makam beliau (dalam rangka memuliakan kubur itu…dst)”

Diperkenalkan kepada anak-anak kita, makam-makam dan ziarah ke sana dari kota-kota yang berjauhan.Syaddu rihal, syaddu rihal itu salah satu larangan keras dalam islam. Syaddu rihal mendatangi kubur-kubur, tempat-tempat dalam rangka ibadah, ziarah kubur ke kota yang jauh mengharuskan safar, dari Balikpapan ke Bontang dalam rangka ziarah kubur, itu dilarang. Bahkan disana disebutkan bahwa ziarah kubur ke makam Soekarno itu ada yang mencari barokah dan yang lain. Disebutkan di salah satu buku paketnya cerita tentang Dewi Sri. Bahwa masyarakat di daerah Tulungagung ataukah Trenggalek (sekitar sana), kalau ingin panennya berhasil, maka mereka mempersembahkan sesajen kepada Dewi Sri, ada acara-acara ritual. Diperkenalkan kepada anak didik kita.

Belum lagi diajarkan toleransi beragama (bukan antar umat beragama, toleransi beragama):

“Bagaimana kalau anda punya teman beragama Hindu. Di suatu hari anda sebagai nelayan, teman anda itu ingin melakukan ritual pembuangan debu mayat yang dibakar ke tengah laut. Anda memiliki perahu, bagaimana sikap anda sebagai seorang warga negara?” (bukan sebagai seorang muslim), ini pelajaran pluralisme. Dalam salah satu soal ujian pilihan (multiple choice), kata bahasanya orang sana abcd:
(a) Tidak meminjamkan
(b) Menyewakan
(c) Menghalangi
(d) Meminjamkan gratis

Pilihan yang benar adalah menurut buku itu yang (d). Anda seorang yang berpengertian, bisa hidup bersosial dalam tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan, Allahu Akbar. Dan berbagai kemungkaran lainnya.

Bagaimana kota jadi Pekalongan, khurafat, syirkiyat, dalam bab rububiyah diajarkan. Kota Pekalongan itu terjadi ketika ada seorang yang sakti pada waktu itu untuk memperkuat kesaktiannya dia bertapa. Di sebuah pohon, kaki digantung di atas kepala di bawah seperti kalong. Tahu kalong? Kelelawar, makanya jadi Pekalongan. Tempat bertapanya seperti posisi kalong itu tadi, mau jadi orang yang sakti. Ini khurafat, agamaisme ini, diajarkan, diperkenalkan kepada anak-anak kita.

Masih ingat tadi nasehat Ibnul Jauzi?

“Dan wajib untuk melarang anak-anak dari berteman dengan ahlul bid’ah”

Termasuk buku-buku ahlul bid’ah, materi-materi bid’ah yang mengandung berbagai kemungkaran, sampai pada tingkan asy syirkul akbar, ini secara singkat. Belum lagi kalau (biasanya yang afiliasinya ke diknas), itu nanti akan ada pertemuan-pertemuan dan menerima persyarata-persyaratan. Para gurunya itu ada persyaratan-persyaratannya untuk mendapat akreditasi, tidak sembarangan.

Kemudian juga kalau yang menginduknya ke kementrian agama, itu juga kurikulumnya beragam. Yang sempat saya baca dan saya dapati beberapa buku paket dan soal-soal ujian di Madrasah Aliyah (yang kebetulan sebagian pihak dari ikhwan kita mendirikan sekolah madrasah aliyah ini), disana dipelajari ilmu kalam, ilmu filsafat, ada buku paketnya. Jadi anak didiknya belajar ilmu filsafat atau ilmu kalam itu tadi.

“Oh ndak itu bisa kita siasati”, kata sebagiannya yang mengikuti hawa nafsu.
“Bisa kita siasati, kita bisa ajarkan kepada murid-murid kita”

Terus kalau ujian bagaimana? Soal-soalnya dari mereka, bagaimana caranya menjawab? Mau tidak mau harus membaca, untuk bisa lulus walaupun nilainya cuma enam, tidak sampai tujuh. Yang penting lulus, mau tidak mau harus membaca. Kata Imam Syafi’i:

حكمي في أصحاب الكلام أن يضربوا بالجريد ، ويحملوا على الإبل ،  ويطاف بهم في العشائر والقبائل ، وينادى عليهم : هذا جزاء من ترك الكتاب  والسنة وأخذ في الكلام

“Ketetapanku (vonisku) terhadap para Ahli Kalam (Filsafat) agar mereka dipukul dengan pelepah kurma, lalu diarak keliling kampung dan suku diatas unta, sembari diumumkan pada khalayak “Ini adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Al Qur’an dan As Sunnah dan mengambil Filsafat.”

Vonisku terhadap orang yang belajar ilmu kalam, IAIN tempatnya, Mubarak Bamualim itu, nilai hasil ujiannya ilmu kalam, ilmu filsafatnya “A”, ilmu kalam “A”, ilmu filsafat “A”, luar biasa kan? Berarti memang sudah mumpuni, nah ini kalau menurut Imam Syafi’i, Mubarak Bamualim dan yang semisalnya, maka dia harus dihukum dengan pelepah kurma, karena di Indonesia tidak ada pelepah kurma, pakai pelepah kelapa. Kemudian kata Al Imam Syafi’i, dibawa di kampung-kampung seraya diumumkan, inilah hukuman bagi orang yang belajar ilmu kalam. Ini yang nilainya cum laude dalam bidang ilmu kalam salah satu pemateri di radio atau tv rodja salah satunya. Sayang Al Imam Syafi’i tidak hidup di zaman ini, barakallahufiikum.

Kemudian dalam pelajaran akhlaq dalam buku paketnya itu diajarkan materi-materi menurut sistim thariqat tasawuf (saya baca sendiri). Diperkenalkan thariqat tijani, siapa pendirinya, apa amalan yang khusus untuk thariqat tijani, dzikir-dzikir tijani. Naqsyabandi, siapa pendirinya, apa itu amalan dan dzikir-dzikir thariqat naqsyabandiyah, al qadiriyah. Diperkenalkan kepada tokoh-tokoh sufi, dan disimpulkan bahwa upaya terbaik, sistem terbaik dalam membenahi kehidupan sosial kemasyarakatan adalah dengan cara thariqat tasawuf atau sistem sufi, ya Subhanallah.

Sudahlah ahlussunnah, sabar, sabar. Pondok-pondok pesantren ini ada barakah. Sudah berapa banyak melahirkan para da’i yang Allah berkahi ilmunya. Ana mendatangi beberapa daerah di berbagai pelosok nusantara ini, datang di beberapa daerah di Kalimantan saya jumpa beberapa ustadz, saya tanya:

“Belajar dimana dulu?”
“Muridnya ustadz Abdurrahman Lombok”
“Masya Allah”

Membina disana, belajar ikhwan tanpa menimbulkan keributan, akhlaqnya baik, tidak merepotkan ikhwan dalam masalah maisyah dia, kehidupan dia. Saya datang ke Belitung, salah satu ustadz, saya tanya:

“Dimana dulu belajar?”
“Di Temanggung, muridnya ustadz Qomar”
“Masya Allah”

Jauh kesana lagi muridnya ustadz Abdurrahman Lombok juga, disana lagi muridnya ustadz Afif, barakah. Sementara di beberapa tempat:

“Siapa ustadznya disana?”
“Fulan”
“Dari mana?”
“Dari Yaman, muridnya Asy Syaikh Muqbil bahkan”

Tapu bikin ribut, akhlaqnya tidak bagus, tidak memberi contoh dan teladan yang baik buat ikhwan, barakallahufiikum.

“Yang satu lagi dari mana?”
“Jami’ah Islamiyah”

Luar biasa sudah. Sehingga ilmu itu yang penting barakahnya ya akhi. Barakahnya, maka ana katakan, ishbir ya akhi. Belajar di pondok-pondok ahlussunnah, sampai insya Allah anak antum diberi kesempatan, antum diberi rizki untuk dia berangkat belajar ke negeri para ulama biidznillahi ta’ala. Ikhlaskan niat, bahwa antum ingin anak antum sebagai seorang yang shaleh, bukan ingin menjadi seorang anak yang nanti akan diustadzkan, tidak. Niatkan anak antum menjadi seorang yang shaleh, bermanhaj salafy, diatas al qur’an wa sunnah, niatkan itu!

 

http://www.thalabilmusyari.web.id/2014/12/nasehat-untuk-mahad-ahlussunah-yang.html

Bagikan Komentarmu