(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib)
“Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah I, niscaya Allah I akan memberinya ganti dengan yang lebih baik.” Inilah satu pelajaran penting yang bisa diambil dari kisah ini. Ketika Nabi Sulaiman u membunuh kuda-kudanya karena telah membuat lalai dari berdzikir kepada Allah I, maka Allah I menggantinya dengan ditundukkannya angin dan setan bagi beliau.”
Di antara pelajaran penting yang dapat di ambil:
1. Bahwa Allah I menceritakan keadaan umat sebelumnya kepada Nabi-Nya Muhammad n adalah untuk meneguhkan hati dan menenangkan jiwa beliau. Allah I ceritakan kepada beliau tentang hebatnya ibadah dan kesabaran umat sebelumnya dan taubat mereka, di mana semua itu akan membangkitkan keinginan untuk berlomba dengan mereka dalam mendekatkan diri kepada Allah I dan bersabar atas semua gangguan dari kaumnya. Oleh karena itu, Allah I menyebutkan di bagian awal surat Shad perkataan orang-orang yang mendustakan Nabi Muhammad n dan gangguan mereka terhadapnya. Kemudian setelah itu Allah I mengatakan:
“Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia adalah orang awwab1.” (Shad: 17)
2. Firman Allah I (yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia adalah orang awwab) adalah pujian agung dari Allah I terhadap orang yang mempunyai kedua sifat ini. Yaitu kekuatan jasmani dan ruhani untuk tetap taat kepada Allah I dan senantiasa kembali kepada Allah I, lahir dan batin. Di mana semua ini mengandung konsekuensi (tuntutan) keharusan mencintai-Nya dan mengenal-Nya secara sempurna. Dan kedua sifat ini berada pa pada kedudukan yang sangat tinggi dan sempurna. Sedang yang ada pada para pengikut mereka, sesuai dengan sejauh mana mereka mengikuti atau menjadikan para nabi itu sebagai teladan yang baik bagi mereka.
Pujian yang Allah I berikan kepada dua sifat ini menunjukkan dorongan untuk menjalankan semua sebab yang akan menumbuhkan kekuatan dan inabah tersebut. Juga agar seorang hamba senantiasa mau kembali kepada Allah I dalam setiap keadaannya, susah ataupun senang.
3. Allah I memuliakan Nabi-Nya, Dawud u dengan menganugerahkan suara yang merdu kepadanya. Gunung-gunung serta burung-burung bertasbih memuji Allah I bersamanya. Semua ini sebagai tambahan kemuliaan dan derajatnya yang tinggi.
4. Termasuk nikmat Allah I yang paling besar bagi hamba-Nya ini, Allah I memberinya rizki berupa ilmu yang bermanfaat serta hikmah untuk mengenal pembicaraan manusia dan pendapat-pendapat mereka ketika terjadinya perselisihan. Sebagaimana firman Allah I (dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah).
5. Sempurnanya perhatian Allah I tehadap para Nabi kekasih-Nya. Apalagi ketika mereka tergelincir dengan satu ujian dan cobaan untuk menghapus mahdzur (kekurangan) dari mereka sehingga kembali menjadi lebih sempurna dari keadaan mereka sebelumnya. Inilah yang dialami oleh Nabi Dawud u
6. Para nabi adalah orang-orang yang ma’shum (terpelihara dari dosa) dalam menyampaikan risalah dari Allah. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kita untuk taat kepada mereka secara mutlak. Adapun tujuan risalah itu, tidaklah akan terwujud kecuali dengan sifat ini (ma’shum). Boleh jadi suatu saat muncul dari mereka sesuatu yang salah. Namun Allah I sudah lebih dahulu dengan sifat-Nya Yang Maha Halus memberikan taubat dan inabah kepada mereka.
7. Nabi Dawud u senantiasa memanfaatkan waktunya untuk selalu berada di mihrabnya (tempat ibadahnya). Di sanalah beliau menyibukkan diri dengan beribadah kepada Rabbnya. Dan beliau juga menyediakan waktu khusus bagi kepentingan rakyatnya. Dengan demikian beliau benar-benar telah menunaikan hak Allah I secara sempurna sekaligus juga hak para hamba Allah I .
8. Sepantasnya seseorang menunjukkan sopan santunnya ketika ia ingin menemui seseorang, terutama seorang penguasa atau pemimpin. Karena kedua “laki-laki” yang berselisih itu masuk menemui Nabi Dawud justeru pada waktu yang tidak biasanya. Bahkan bukan melalui pintu yang telah disediakan sehingga hal itu memberatkannya, dan bukanlah suatu hal pantas untuk dilakukan.
Namun meskipun demikian buruknya adab sopan santun dari orang-orang yang mengadukan perselisihan mereka, tidak sepantasnya pula seorang hakim menolak untuk mengadilinya. Hal ini memperlihatkan betapa besarnya sifat santun beliau yang tidak menjadi marah kepada keduanya meskipun mereka menemuinya tanpa izin, dan bahkan tidak pula beliau menghardik dan mencela mereka.
9. Bolehnya seseorang yang dizalimi mengatakan kepada orang yang menzaliminya,”Hai orang yang zalim”, “Engkau telah menzalimi saya” atau yang semakna. Karena hal ini disebutkan dalam ayat: (Salah seorang dari kami berbuat zalim terhadap yang lain).
10. Seseorang yang diberi nasehat walaupun kedudukannya sangat tinggi dan berilmu, dia tetap wajib untuk tidak murka dan tidak merasa enggan menerima nasehat tersebut. Bahkan seharusnya dia segera menerima nasehat itu dan berterima kasih kepada yang menasehatinya. Serta bertahmid memuji Allah I yang telah menunjukkan kepadanya seseorang yang menasehatinya. Dan Nabi Dawud u sama sekali tidak merasa enggan menerima tuntutan dari kedua orang yang berselisih itu, di mana mereka meminta kepada beliau: (Maka berilah keputusan di antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus). Dan beliau menetapkan keputusan benar-benar sesuai dengan kebenaran.
11. Pergaulan antara kerabat, teman dan para relasi, serta seringnya terjadi keterkaitan dalam hubungan harta tidak jarang menimbulkan permusuhan, di mana yang satu menzalimi yang lain. Dan tidak ada yang dapat menepis penyakit ini kecuali ketakwaan, kesabaran dan keimanan serta amal shalih. Namun hal ini sangat sedikit ditemukan di tengah-tengah kehidupan manusia.
12. Penghargaan yang Allah berikan kepada Dawud dan Sulaiman e dengan menjadikan mereka sebagai hamba-hamba-Nya yang terdekat dan mempunyai tempat kembali yang baik di sisi Allah I. Hendaknya jangan ada yang menyangka bahwa apa yang dialami keduanya mengurangi derajat keduanya di sisi Allah I (bahkan sebaliknya). Hal ini merupakan kesempurnaan sifat Allah I yang Maha Halus terhadap hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Di mana Allah I mengampuni dosa-dosa mereka dan menghapus bekas-bekas dosa tersebut bahkan mencabutnya dari hati setiap hamba-Nya. Dan semua itu tidaklah berat bagi Allah Yang Maha Pemurah.
13. Martabat hukum di tengah-tengah manusia adalah martabat diniyah (berkaitan dengan agama). Dan ini adalah tugas dan wewenang para rasul Allah dan hamba-hamba-Nya yang istimewa. Yang berlaku adalah penetapan hukum berdasarkan Al-Haq dan tidak mengikuti hawa nafsu.
14. Memberi keputusan berdasarkan kebenaran berarti mengharuskan seseorang yang akan menanganinya untuk mempunyai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan permasalahan syariat dan ilmu tentang gambaran kasus yang sebenarnya. Serta bagaimana memasukkannya ke dalam ketetapan-ketetapan syariat secara umum. Sedangkan orang yang jahil (bodoh) dan tidak memiliki ilmu tentang salah satu dari kedua hal ini, maka tidak halal baginya untuk maju memberi keputusan di antara manusia.
15. Nabi Sulaiman u dapat dianggap sebagai bukti keutamaan Nabi Dawud u dan anugerah Allah kepada beliau. Allah I berfirman:
“Dan Kami karuniakan Sulaiman kepada Dawud, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia adalah seorang yang awwab.” (Shad: 30)
Ini adalah pujian paling utama dan kebanggaan paling besar bagi Sulaiman.
16. Dalam kisah ini disebutkan betapa banyak kebaikan dan karunia Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang pilihan. Di mana Allah menganugerahkan akhlak yang begitu indah dan (kemauan untuk mengerjakan) amalan shalih kepada mereka. Kemudian Allah I memuji mereka dan menyediakan bermacam-macam pahala hasil dari kebaikan tersebut. Ini menunjukkan bahwa Allah I satu-satunya yang memberikan karunia dengan menyediakan semua sebab dan akibatnya.
17. Diterangkan pula dalam kisah ini bahwa Nabi Sulaiman lebih mementingkan rasa cintanya kepada Allah I di atas cintanya terhadap apapun juga. Beliau lebih suka membunuh kuda-kuda kesayangannya yang telah membuatnya lupa berdzikir mengingat Allah I sampai matahari tenggelam. Dan ini menunjukkan bahwa semua yang menyibukkan seseorang (sehingga lupa) untuk taat kepada Allah I adalah tercela. Maka hendaklah dia meninggalkan kesibukannya itu dan segera berpaling kepada sesuatu yang jelas lebih bermanfaat baginya.
Setelah Nabi Sulaiman membunuh kuda-kudanya yang terbaik yang telah melalaikannya dari mengingat Allah I, kemudian Allah I tundukkan baginya angin yang berhembus dan setan-setan. Dari kisah ini kita lihat alangkah tingginya pelajaran yang disebutkan dalam kaidah ini: “Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah I , niscaya Allah I akan memberinya ganti dengan yang lebih baik.”
Ditundukkannya angin dan para setan dengan cara sedemikian rupa bagi Nabi Sulaiman, tidaklah berlaku bagi siapapun sesudah beliau. Oleh sebab itulah ketika Nabi Muhammad n menangkap setan yang mengganggu shalatnya pada suatu malam, kemudian beliau ingin mengikatnya di tiang mesjid, beliau berkata: “Saya teringat doa saudaraku Sulaiman, akhirnya saya lepaskan dia.”
18. Disebutkan dalam kisah ini bahwa Sulaiman adalah seorang nabi sekaligus raja, dan diizinkan pula berbuat sesuai dengan keinginannya. Namun terdorong oleh kemuliaan yang ada pada diri beliau, maka tidak ada keinginan beliau yang lain kecuali kebaikan dan keadilan. Berbeda halnya dengan nabi yang hanya seorang hamba Allah I yang biasa. Di mana dia tidak mempunyai keinginan yang bebas. Kehendak ataupun keinginannya senantiasa mengikuti apa yang diinginkan oleh Allah I atas dirinya. Dia tidak mengerjakan ataupun meninggalkan sesuatu melainkan karena mengikuti perintah. Seperti keadaan Nabi kita Muhammad n.
19. Allah I telah menganugerahkan kerajaan yang besar kepada Nabi Sulaiman. Di dalamnya terdapat berbagai hal yang tidak mungkin dicapai (walaupun) dengan sebab-sebabnya. Semua itu tidak lain adalah karena taqdir Allah Raja yang Maha Pemberi. Misalnya angin dan setan-setan yang ditundukkan Allah mengikuti apa yang diperintahkan Nabi Sulaiman, serta balatentara yang dihimpun dalam pasukan beliau dari manusia, jin, dan burung. Bahkan burung-burung itu benar-benar memberikan pelayanan begitu besar kepada beliau. Mereka dikirim ke beberapa penjuru untuk mendapatkan berita tentang keadaan di daerah tersebut.
Allah I telah memberikan kepada burung-burung itu pemahaman tentang keadaan manusia sebagaimana Dia ceritakan dalam kisah ini. Demikian pula orang yang dianugerahi ilmu dari Al Kitab ketika dia menyatakan siap mendatangkan singgasana Ratu Saba` sebelum Nabi Sulaiman mengedipkan matanya. Inilah mu’jizat (ayat) para nabi. Maka, bagaimanapun tingginya ilmu yang dipelajari oleh manusia dan kemahirannya membuat sesuatu yang baru, mereka tidak akan mencapai tingkatan seperti yang dianugerahkan Allah I kepada Nabi Sulaiman.
20. Diajarkan pula dalam kisah ini, hendaknya para raja dan pemimpin itu menanyakan keadaan para penguasa atau pemimpin dan tokoh-tokoh yang mempunyai keistimewaan dalam sejarah hidupnya. Tidak hanya sekedar bertanya, tetapi juga mempelajari dan menguji bagaimana perhatian serta pemahaman mereka tehadap suatu permasalahan. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi Sulaiman. Dan hal ini sangat besar manfaatnya, di mana mereka jelas amat membutuhkan hal ini. Apalagi suatu kerajaan akan semakin sempurna apabila di sekitarnya adalah orang-orang yang mempunyai pemikiran sempurna.
Wallahu a’lam.
1 Orang yang suka bertaubat

http://asysyariah.com/

Bagikan Komentarmu