*Nubuwwah*



🗡🩸 *PEMBUNUHAN PARA PENGHAFAL AL-QUR’AN*


✍🏻 *Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc حفظه الله تعالى*


Ka’ab bin Zaid bin An-Najjar رضي الله عنه berada di tengah-tengah tumpukan mayat Syuhada. 


🅱eliau terluka parah. *Namun, tak ada yang menyangka ia akan terus hidup.* Allah سبحانه وتعالى takdirkan Ka’ab berumur panjang hingga mengikuti perang Khandaq bersama Rasulullah ﷺ, *dan syahid di perang tersebut.*


Apakah gerangan yang terjadi pada diri Ka’ab bin Zaid رضي الله عنه❓ *Bersama jasad-jasad siapa tubuh beliau berlumur darah*❓


*Beliaulah saksi hidup kekejian dan penghianatan kuffar (orang-orang kafir) terhadap perjanjian bersama Rasulullah ﷺ pada peristiwa Bi’r Ma’unah. Tragedi berdarah Bi’r Ma’unah mengantarkan semua shahabat, tujuh puluh ahli Al-Quran menemui Rabb-Nya dalam keadaan Syahid. Kecuali Ka’ab bin Zaid.* Bagaimana kisahnya❓


Perang Uhud masih menyisakan kesedihan. *Tujuh puluh shahabat terbaik, dari kaum Muhajirin dan Anshar meninggal. Hamzah bin Abdul Muththalib, Mush’ab bin Umair, Abdullah bin Haram, dan sederet nama patriot Islam menghembuskan nafas terakhir untuk Allah, syahid di bumi Uhud.*


*Selang beberapa bulan, musibah kembali menimpa kaum muslimin. Dua peristiwa, Ar-Rajii’ dan Bi’r Ma’unah menjadi saksipengorbanan shahabat dalam menyebarkan IsIam.* Sekaligus bukti kegigihan mereka menegakkan kalimat Allah di muka Bumi. 


🏰 *SEBAB PENGIRIMAN SATUAN PASUKAN DALAM PERISTIWA BI’R MA’UNAH*

Imam Muslim رحمه الله meriwayatkan dalam kitab Shahihnya¹, *bahwa sebab pengiriman satuan perang ini adalah datangnya serombongan tamu kepada Rasulullah ﷺ meminta beliau agar mengutus shahabat-shahabat untuk mangajari mereka AI-Quran dan As-Sunnah.*


Selaras dengan riwayat Muslim رحمه الله, Al-Bukhari رحمه الله menyebutkan *bahwa sebab pengiriman rombongan shahabat adalah permohonan Ri’l dan Dzakwan dari Bani Sulaim, dan Ushayyah dari Bani Lahyan, mereka memohon bantuan Rasulullah ﷺ. Maka beIiau mengutus tujuh puluh shahabat.*


Dalam referensi Sirah Nabawiyah² disebutkan bahwa suatu ketika Abu Barra’, Amir bin Malik bin Ja‘far, pembesar Bani Amir, *yang dikenal sebagai ahli tombak menemui Rasulullah ﷺ di Madinah. Rasulullah ﷺ menawarkan Islam kepadanya.* Abu Barra’ tidak menerima ajakan Islam, namun tidak pula menolaknya. 


Abu Barra’ kemudian berkata, “Wahai Rasulullah❗Seandainya *Engkau mengutus shahabat-shahabatmu ke penduduk Najd untuk mengajak mereka kepada Islam. Aku berharap mereka mau menerima seruan tersebut.”*


Rasulullah ﷺ pun menjawab, *”Aku mengkhawatirkan mereka dari berbagai kemungkinan buruk yang dilakukan oieh penduduk Najd.”*


*Kekhawatiran Rasulullah ﷺ sangat beralasan. Wilayah Najd saat itu masih dikuasai kuffar.*


Abu Barra’ menyahut, *”Aku yang menjamin keselamatan mereka.”*


*Mendapat jaminan Abu Barra‘, Rasulullah ﷺ pun mengutus 7O orang shahabat untuk membawa misi dakwah.*


Dari semua riwayat-riwayat di atas, mungkin kita katakan *bahwa Rasulullah ﷺ mengutus para shahabat dengan semua sebab itu. Pertama: permintaan Bani Sulaim, kedua: permintaan Abu Barra’.* Allahu a’lam. 


Siapa tujuh puluh orang shahabat yang diutus Rasulullah ﷺ❓ *Mereka adalah shahabat-shahabat pilihan yang disebut qurra‘ (ahli Al-Qur‘an).* Hari-hari mereka dipenuhi dengan amalan shalih dan semangat menuntut ilmu. Di siang hari mereka bekerja sebagai pencari kayu bakar, *hasilnya mereka sedekahkan untuk ahli suffah, shahabat-shahabat fuqara’. Adapun di malam hari, mereka tekun menegakkan shalat dan ibadah kepada Allah.³*


Dengan penuh pengharapan dan tawakkal kepada Allah, berangkatlah kesatuan pasukan Rasulullah ﷺ. Al-Mundzir bin Amr رضي الله عنه dari Bani Sa’idah ditunjuk sebagai pimpinan *sariyyah (pasukan kecil) itu. Dialah shahabat yang berjuluk ‘aI-Mu’niq Ii Yamût’, ’Sang pemberani mati, orang yang bergegas meraih syahadah (mati syahid)’.*


Di bawah kepemimpinannya, *berangkatlah shahabat qurra’ lainnya seperti Amir bin Fuhairah4, seorang bekas budak Abu Bakar Ash-Shiddiq, Haram bin Milhan, Ka’ab bin Zaid bin An-Najjar, AI-Harits bin Ash-Shimmah, Urwah bin Asma’, Nafi’ bin Budail bin Warqâ’,* dan shahabat-sahabat pilihan Iainnya. 


Mereka meninggalkan Madinah pada bulan Shafar tahun 4 hijriyah, empat bulan setelah perang Uhud. 


🏰 *TIBA DI BI’R MA’UNAH DAN WAFATNYA HARAM BIN MILHAN*

Sampailah rombongan Al-Mundzir bin Amr di sebuah tempat bernama Bi‘r Ma’unah. Daerah ini berada di antara wilayah Bani Amir dan wilayah Bani Sulaim. Kedua daerah tersebut berdekatan, namun Bi’r Ma’unah lebih dekat kepada wilayah Bani Sulaim daripada wilayah Bani Amir. 


Setibanya di Bi’r Ma’unah, diutuslah Haram bin Milhan, saudara Ummu Sulaim bintu Milhan *untuk menyampaikan surat Rasulullah ﷺ kepada musuh Allah, Amir bin Ath Thufail.*


*Ternyata Haram رضي الله عنه tidak disambut sebagaimana mestinya seorang utusan yang terhormat. Surat Rasulullah ﷺ tidak dihiraukan sama sekali oleh Amir bin Ath Thufail. Bahkan, ia memberi isyarat kepada seseorang agar Haram bin Milham dibunuh.*


*Tombak nan tajam melesat, ditusukkan dengan demikian kuat dari belakang tubuh Haram.* Benda tajam itu menembus dadanya, *merobek dada yang selama ini dipenuhi dengan Kalamullah, Al-Qur’an. _Innalillahi wa inna ilaihi Raji’un._*


*Darah bersimbah.*


*Detik-detik kematian menghampiri shahabat yang mulia, Haram bin Milhan رضي الله عنه.*


*Demi melihat darah segar, bukan kesedihan yang tersirat dari wajah Haram, justru kebahagiaan melingkupi relung qalbunya.* Dengan lantang Haram bin Milhan, *seorang yang pincang kakinya berteriak penuh kebahagiaan:*


اللهُ أَكْبَرُ فُزْتُ وَرَبِّ الْكَعْبَتِ


*_”Allahu Akbar, Aku telah beruntung, Demi Rabb Ka’bah_*❗” 


*Subhanallah*❗Sungguh tidak terbayang kalimat indah ini terucap  ❗


Tubuh Haram bin Milhan rebah, *bersama diangkatnya Roh menuju keridhaan dan ampunan Rabbul’izzah.*


🏰 *AMIR BIN ATH THUFAIL MENGHASUT BANI AMIR DAN BANI SULAIM*

Kematian Al-Haram tidak cukup bagi Amir bin Ath Thufail. Dia lanjutkan makar dan pengkhianatannya dengan menghasut orang-orang Bani Amir agar memerangi rombongan qurra’. *Namun mereka menolak karena adanya perlindungan Abu Barra‘.*


Dia pun menghasut Bani Sulaim. Ajakan ini kemudian disambut oleh Ushayyah, Ri’l, dan Dzakwan, *padahal merekalah yang meminta kedatangan shahabat, dan mereka masih terikat perjanjian dengan Rasulullah ﷺ.*


Ushayyah, Ri’l, dan Dzakwan termakan hasutan lbnu Ath Thufail. *Segera mereka mengepung para shahabat Rasulullah ﷺ.* Meskipun shahabat Qurra’ mencoba mengadakan perlawanan dengan senjata-senjata yang mereka bawa, *namun Allah سبحانه وتعالى menghendaki kemuliaan atas mereka. Semua dibunuh, kecuali Ka’ab bin Zaid bin An-Najjar, tubuhnya terlempar, terbaring bersama jenazah lainnya dengan luka yang sangat parah.* Hingga beliau selamat, *bahkan menyaksikan Perang Khandaq, dan syahid di pertempuran tersebut.*


🔽⬇⏬ *bersambung, إن شآء الله* …