┏📜📚📖━━━━━━━━━━━━━┓
*Majmu’ah Riyadhussalafiyyin*
┗━━━━━━━━━━━━━📖📚📜┛

*📚🖊📖PETUNJUK RASULULLAH UNTUK SI KECIL YANG BARU LAHIR*

🌱 Setelah sang bayi terlahir di dunia ini yang semestinya dilakukan oleh orang tuanya adalah memberikan ia nama, apabila nama tersebut telah dipersiapkan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ولد لي الليلة غلام فسميته باسم أبي إبراهيم.

“Telah lahir tadi malam anakku. Aku beri nama dia dengan nama bapakku, yaitu Ibrahim (Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ keturunan Nabi Ibrahim _‘alaihissallam_)” (Muslim, no. 2.315 dari Anas bin Malik).

✋🏻 Apabila nama tersebut belum dipersiapkan, maka tidak mengapa ditunda pemberian namanya sampai hari ketujuh. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_,

كل غلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويسمى و يحلق رأسه.

“Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya; disembelihkan, dan diberi nama serta digundul rambutnya di hari ketujuh” (Abu Dawud, al-Nasa’i, dan yang lainnya; disahihkan al-Albani dalam _Shahih al-Nasa’i_, no. 3.936).

🥀 Setelah bayi lahir, disunahkan juga untuk menahniknya dengan kurma, misalnya seorang ayah mengunyah kurma kemudian kurma yang sudah dilumatkan tersebut diambil dan diletakkan di langit-langit bayinya. Hal ini berdasarkan hadis dari sahabat Abu Musa al-Asy‘ari,

ولد لي غلام فأتيت به النبي صلى الله عليه وسلم فسماه إبراهيم وحنكه بتمرة.

“Anakku telah lahir, maka aku datangkan ia ke hadapan Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_. Beliau _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ pun memberinya nama Ibrahim dan beliau menahniknya” (Muslim, no. 2.145)

☝ Adapun hal mengumandangkan azan di telinga bayi, terdapat riwayat dari Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_,

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أذن في أذن الحسن بن علي حين ولدته فاطمة بالصلاة.

“Aku menyaksikan Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ mengumandangkan azan seperti azan untuk salat di telinga al-Hasan bin ‘Ali ketika dilahirkan Fathimah” (Ahmad dari Abu Rafi‘).

💧 Sayangnya, hadis ini daif karena di dalam sanadnya terdapat seorang yang bernama ‘Ashim bin ‘Ubaidillah yang dinilai Imam al-Bukhari _rahimahullah_ sebagai _munkarul-hadits_. Terdapat riwayat lain yang menguatkan hadis ini, tetapi tidak sampai menjadikan hadis itu bisa diterima.

🏷 Oleh karena itu, tidak disyariatkan azan dan ikamah di telinga bayi yang baru lahir karena tidak ada hadis sahih yang bisa dijadikan sandaran dalam hal ini.

✂ Disunahkan pula untuk menggundul rambut bayi di hari ketujuh berdasarkan hadis di atas,

كل غلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويسمى و يحلق رأسه.

“Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya; disembelihkan, dan diberi nama serta digundul rambutnya di hari ketujuh” (Abu Dawud, al-Nasa’i, dan yang lainnya; disahihkan al-Albani dalam _Shahih al-Nasa’i_, no. 3.936).

🖥 Sebagian ulama berpendapat bahwa yang digundul adalah rambut anak laki-laki saja, anak perempuan tidak. Sebagian ulama yang lain berpendapat hadis tersebut umum untuk anak laki-laki dan perempuan.

✂ Namun, menggundul rambut bayi tidak boleh dilakukan apabila tidak dijumpai tukang cukur yang ahli, atau apabila mencukur rambutnya dengan model potongan orang-orang kafir atau model potongan yang diharamkan seperti _qaza‘ (mencukur rambut sebagian dan memanjangkan sebagian yang lain–ed)._

❓ Kemudian setelah rambutnya digundul, apakah disunahkan untuk bersedekah dengan rambut yang ditimbang senilai perak?

📖 Dalam hal ini terdapat hadis Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam,_ tetapi sebagian ulama tidak menganggapnya sahih. Oleh karena itu, asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul‘aziz bin Baz _rahimahullah_ ketika ditanya tentang ini menjawab bahwa butuh pembahasan lagi (yakni untuk menyatakan hadis tersebut bisa dijadikan sandaran). Demikian pula asy-Syaikh Shalih al-Fauzan _hafizhahullah_ ketika ditanya tentang bersedekah dengan senilai rambut yang ditimbang, beliau _hafizhahullah_ menjawab,

*لم يثبت فيه دليل.*

“Tidak ada dalil sahih dalam hal ini.”

📖 Hadis yang dimaksud adalah sebagai berikut.

لما ولدت فاطمة حسنا قالت : ألا أعق ابني بدم ؟ قال: لا ولكن احلقي رأسه وتصدقي بوزن شعره من فضة على المساكين والأوفاض وكان الأوفاض ناسا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم محتاجين في المسجد أو في الصفة ففعلت ذلك قالت فلما ولدت حسينا فعلت مثل ذلك.

Ketika Fathimah melahirkan Hasan, dia berkata kepada Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam_, “Tidakkah aku akikahkan?” Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ pun menjawab, “Jangan, tetapi gundullah rambutnya dan bersedekahlah dengan timbangan rambutnya disesuaikan nilai perak kepada fakir miskin dan _aufadh_ –para sahabat Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ yang berada di masjid atau di sufah–yang membutuhkan,” maka Fathimah pun melakukannya dan berkata, “Ketika Husain lahir aku lakukan juga perbuatan yang demikian itu” (Al-Irwa’, no. 1.175).

📖 Hadis ini dari jalan Syarik dari ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil dari ’Ali bin Husain dari Abu Rafi‘. Syarik adalah Ibnu ‘Abdillah al-Qadhi yang dinilai jelek hafalannya. Namun, Syarik al-Qadhi tidaklah bersendiri. Ada beberapa rawi yang menguatkannya, di antaranya ‘Ubaidillah bin ‘Amr dari ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil dan ada sedikit perbedaan lafaz.

🏷 ‘Ubaidillah ini adalah al-Raqi, seorang yang terpercaya dan dijadikan hujah dalam kitab al-Bukhari dan Muslim, sehingga yang benar adalah hadis ini adalah hadis yang bisa dijadikan sandaran dalam beramal. Hal ini bisa dilihat dalam _al-Irwa’_ untuk penjelasannya yang lebih terperinci.

❓ Kenapa di dalam hadis ini Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ melarang Fathimah untuk mengakikahkan Hasan?

📚 Dijawab oleh para ulama dengan banyak jawaban. Yang paling bagus adalah dari al-Baihaqi _rahimahullah_ yang dinukil dalam _al-Irwa’_, yaitu karena Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ ingin mengambil alih dalam mengakikahkan cucunya. Oleh karena itu, beliau perintahkan Fathimah untuk mengamalkan sunah yang lain.

❓ Apakah sedekah tersebut diperuntukkan kepada fakir miskin saja, ataukah boleh diberikan ke masjid atau tempat yang semisalnya?

✅ Jawabannya adalah sebagaimana disebutkan dalam lafaz hadis, yaitu kepada fakir miskin atau orang-orang yang membutuhkan.

🖋 Oleh: Ustaz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar _hafizhahullah._

➖ ➖ ➖ ➖ ➖
🕌 _“Tetap hadir di majelis ilmu syar’i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan berkah lebih banyak dan lebih besar, insyaallah.”_

📲 *Ayo Join dan Share*:
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📚 Faedah:
telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
🖼 Poster dan Video:
telegram.me/galerifaedah
🌏 Kunjungi:
www.riyadhussalafiyyin.com