SAUDARAKU, JANGAN BIARKAN AKU BERBUAT DZALIM PADA DIRIKU SENDIRI

Nabi [ﷺ] bersabda:

{ المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ القِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. }

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya berbuat zhalim. Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya niscaya Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa melapangkan satu kesusahan saudaranya niscaya Allah akan melapangkan baginya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan tutupi aibnya pada hari kiamat.”

📚[HR. Bukhari Muslim]

Al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan:

“Di dalam hadits ini ada anjuran, motivasi, dorongan untuk saling melakukan kerjasama atau ta’awun. Disamping itu juga ada anjuran agar selalu menampakkan pergaulan yang baik dan dorongan agar menjaga persatuan dan kesatuan.”


📜 Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf hafizhahullah

— ➊

🚇SAUDARAKU, BANTU AKU MENYUCIKAN DIRIKU

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

{ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠ }

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

📚[Asy-Syams: 9-10]

Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata:

“Orang yang berakal tidak akan tersamarkan dari aibnya sendiri. Sebab, orang yang tidak mengenal aibnya sendiri, ia tidak akan mengetahui/mengakui kebaikan orang lain. Sesungguhnya, hukuman terberat yang dirasakan oleh seseorang adalah ketika ia tidak mengetahui aibnya sendiri sehingga ia tidak akan berhenti dari (kejelekan)nya. Dia tidak akan mengetahui pula kebaikan orang lain terhadapnya.”

📚[Raudhatul Uqala, hlm. 22]

📜 Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc. hafizhahullah

— ➋

🚇SAUDARAKU, JANGAN BIARKAN AKU TERTIPU OLEH PUJIAN

Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata:

{ ليس يضر المدح من عرف نفسه }

“Orang yang tahu diri tidak akan terbahayakan (tertipu) oleh pujian.”

📚[Shifatu Shafwah 2/557]

— ➌

🚇SAUDARAKU, BANTU AKU MENYADARI KADAR DIRIKU

Ada sebuah ungkapan (bukan hadits):

{ رحم الله امرؤ عرف قدر نفسه }

“(Semoga Allah merahmati orang yang mengenali kadar (kapasitas) dirinya).”

Kata Syaikh Utsaimin rahimahullah:

“Saya tidak tahu darimana asalnya ungkapan tersebut. Akan tetapi maknanya shahih, karena jika seseorang mengenali kadar dirinya maka dia akan tunduk-merunduk kepada Robb-nya, menunaikan ibadahnya dan dia tahu bahwa dia tidak bisa mencukupkan dirinya dari Robb-nya meski sekejap mata.”

📚[Fatawa Nuurun ‘alad Darb, kaset nomor 250, side B, soal ke-6]

— ➍

⛓ bit.ly/Fw411204
📮••••|Edisi| t.me/s/ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

✍🏻__ via: bit.ly/2F0JjCI

Sumber: ➊ bit.ly/30HNn3c | ➋ bit.ly/3ilyMAs | ➌ bit.ly/31OoC4X | ➍ bit.ly/33Fgmqk