SELINGKUH, CINTA DURJANA !!
(bagian ke-1)

~ Catatan Al-basimiy ~

============================
Siapa yang memungkiri bahwa setiap insan berhak dicinta dan mencintai? Siapa pula yang mengingkari bahwa setiap insan berhak memilih pasangan yang dia suka? Tapi ingat, semuanya harus dengan etika islamiah!! Manusia punya asa, Allah punya kuasa.
============================

Sepasang pria dan wanita yang keduanya telah memiliki keluarga sendiri-sendiri, menjalin hubungan ‘cinta’ sebagaimana layakya suami istri. Itulah perselingkuhan dalam rumah tangga. Perbuatan dosa dengan mudharat yang sangat serius dan telah banyak membuat rusak para pelakunya.
—-000—-

Seorang pemuda tidak diperbolehkan untuk berduaan (khalwat) dengan gadis yang bukan mahramnya, walaupun hanya sebatas berduaan.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﺃَﻟَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﺨْﻠُﻮَﻥَّ ﺭَﺟُﻞٌ ﺑِﺎﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻟَﺎ ﺗَﺤِﻞُّ ﻟَﻪُ ﻓَﺈِﻥَّ ﺛَﺎﻟِﺜَﻬُﻤَﺎ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ

“Ketahuilah. Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan wanita yang tidak halal baginya, sebab yang ketiganya adalah syaithan.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dari Amir bin Rabi’ah)

Diharamkan juga bagi keduanya untuk saling bersentuhan, meskipun hanya sekedar tangan. Semuanya itu hukumnya haram. Nabi -shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻷَﻥْ ﻳُﻄْﻌِﻦَ ﻓِﻲ ﺭَﺃْﺱِ ﺭَﺟُﻞٍ ﺑِﻤِﺨْﻴَﻂٍ ﻣِﻦْ ﺣَﺪِﻳْﺪٍ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﻥْ ﻳَﻤﺲَّ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻻَ ﺗَﺤِﻞُّ ﻟَﻪُ

“Seseorang ditusuk kepalanya dengan jarum besi lebih baik baginya daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani, dari Ma’qil bin Yasar)

Apalagi ‘khalwat’ dengan istri/suami orang, sambil pegangan tangan, bahkan….!? Sungguh, perselingkuhan benar-benar dosa berlapis dosa, kemaksiatan di dalam kemaksiatan.
—-000—-

Terlanjur cinta, menantang dosa
Teramat janggal. Dalam keadaan keduanya sadar bahwa dampak perselingkuhan sangatlah besar. Terlanjur dan terlanjur. Kilah keumuman para pengikut rayuan syaithan. Orang-orang yang zhalim atas dirinya ini telah terpukau dengan kilauan dosa. Terbuai akan dahsyatnya hembusan syahwat birahi jiwanya. Tobat?? Ooh terlanjur sudah….. Hatiku terlanjur cinta.

Walaupun harus menuai murka, walaupun mesti terancam siksa. Dia tak perduli lagi dengan semua ancaman dan peringatan dari Allah -subhanahu wata’ala- betapa pun beratnya. Allahul Musta’an.

Lumpur dosa benar-benar mampu melenyapkan iman dan menutupi mata hati. Jasad hidup namun hatinya mati. Adalah makhluk bumi yang lebih buruk daripada sekujur mumi.

Ibnul Mubarak -rahimahullah berkata:

ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏَ ﺗُﻤِﻴْﺖُ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮْﺏَ * ﻭَﻗﺪ ﻳُﻮْﺭِﺙُ ﺍﻟﺬُّﻝَّ ﺇِﺩْﻣَﺎﻧُﻬَﺎ
ﻭَﺗَﺮْﻙُ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏِ ﺣَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ * ﻭَﺧَﻴْﺮٌ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻚَ ﻋِﺼْﻴَﺎﻧُﻬَﺎ

“Ku lihat dosa akan mematikan hati……..
Senantiasa berbuat dosa mewariskan hina……..
Menepis dosa menjadi sebab hidupnya hati……..
Yang terbaik bagimu adalah menghadangnya……..”
—-000—-

Perselingkuhan – memalukan
Perasaan gelisah berkemul resah menyiksa. Lisan berkelit menyortir kata-kata alasan dusta. Kuduk mendingin takut rahasia kejinya terungkap manusia. Bertanda bahwa apa yang dia sembunyikan itu adalah perbuatan tercela. Karena dosa itu adalah apa-apa yang menyesakkan dada, dan engkau tidak suka orang lain mengetahuinya. Sabda Nabi shallallahu alaihi was sallam:

ﻭَﺍﻟْﺈِﺛْﻢُ ﻣَﺎ ﺣَﺎﻙَ ﻓِﻲْ ﺻَﺪْﺭِﻙَ، ﻭَﻛَﺮِﻫْﺖَ ﺃَﻥْ ﻳَﻄَّﻠِﻊَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ .

“Sedangkan dosa adalah apa menggelisahkan hatimu dan engkau tidak suka jika manusia mengetahuinya.” [Hadits riwayat Muslim no. 2553]

Andai rahasia itu terkuak, maka yang akan menanggung malu bukan hanya sepihak. Tapi dia, pasangan gelapnya, serta dua anggota keluarga juga akan menanggung malunya. Wibawa keluarga jatuh dan martabat di lingkungan pun runtuh.

Kau hancurkan keluargamu dan keluarganya demi dosa itu
Bahtera rumah tangga yang kokohnya melebihi karang di tepian samudera pastilah kandas diterjang badai perselingkuhan. Walaupun efek awalnya hanya sekedar percekcokan pasutri. Lama kelamaan keharmonisan akan hilang keseimbangan, bersamaan dengan hilangnya kepercayaan.

Anak-anak belum paham, mengapa ayah dan ibu selalu bertengkar? Kepada siapa mereka harus berpihak? Ayah? Ibu? Mengapa……??

Duh rupanya benar. Yang diinginkan dari salah satunya (yang berselingkuh) adalah perpisahan. Ternyata sebab terjadinya pertengkaran selama ini adalah drama yang dipaksa-paksakan untuk memancing terucapnya kata-kata “cerai”.
—-000—-

Tentang hukum rajam
Hukuman rajam adalah bukti ‘qath’i’ yang menunjukkan betapa hina dan nistanya perselingkuhan. Tidaklah Allah menyegerakan suatu hukuman melainkan atas dosa besar yang sangat merusak lagi membahayakan.

Nabi -shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat telah merajam penzina ‘muhshan‘. Yakni pria atau wanita yang telah menikah kemudian melakukan perbuatan zina. Hukum rajam telah termaktub di dalam hadits-hadits yang shahih, bahkan di dalam Al-Qur’an. Walaupun konteks ayatnya telah ‘dimansukh’ namun Allah tetap mensyari’atkan hukum rajam.

Kisah wanita Al-Ghamidiyyah di dalam shahih Imam Muslim. Dia datang kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengakui perbuatannya. Akhir hadits menjelaskan bahwa wanita tersebut dirajam sebagai penebus dosa perbuatan zina. [Lihat Shahih Muslim, bab “Seseorang yang Mengaku Telah Berbuat Zina”, no. 3208]

Rajam itu pedih dan sungguh menyakitkan. Bayangkan, dia ditanam sampai tersisa tinggal kepala, kemudian dilempari dengan bebatuan kecil hingga binasa. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah menerangkan:

“Dilempari dengan bebatuan sampai tersiksa dan merasakan pedihnya siksaan sebagai pengganti kenikmatan haram yang telah dia dapatkan, sebab pezina tersebut telah merasakan kelezatan pada sekujur tubuhnya dengan sesuatu yang haram….” [Syarh Riyadhus Shalihin bab. At-Taubah hadits ke-22]
—-000—-

Akhir cinta terlarang ala millenial
Kata-kata ‘cintaku’, ‘kasihku’, ‘sayangku’, dan sekian ungkapan hampir semakna dengan itu telah menjadi sapaan baku. Tanpa malu kata-kata itu selalu terulang di saat keduanya sedang bercakap, marayu, dan bercumbu.

Padahal -walaupun terkadang benar- toh itu adalah cinta maksiat, haram dan bejat. Tak jarang semuanya hanyalah ungkapan menipu. Di balik semua itu adalah makar yang tujuannya hanya sekedar untuk melampiaskan hawa nafsu.

Entah disadari atau tidak oleh para pelakunya bahwa perselingkuhan akan membenihkan komplikasi dosa. Ibarat satu penyakit, jika tidak diobati maka akan menimbulkan penyakit-penyakit lainnya.

Sa’id ibnu Jubair -rahimahullah berkata:

فإن من عقوبة السيئة السيئة بعدها

“Sesungguhnya akibat dari satu perbuatan jahat adalah (munculnya) kejahatan berikutnya.”

Ibnul Qayyim -rahimahullah berkata:

إن المعاصي يولد بعدها بعضا

“Sesungguhnya kemaksiatan itu saling melahirkan satu sama lainnya.” [Kitab Ad-daa’u Waddawaa’: 90-91]

Sekian banyak kejadian serupa berujung pada pembunuhan pasangan gelapnya. Ya, khawatir dengan ini dan itu. Hingga terbesit bisikan untuk membunuh. Aksi merenggut nyawa, polisi pun memburu. Wa ilallahil Musytaka.

Wallahu a’lam bishshowaab.
*********

Pagaralam, 27 Rabiul akhir 1439/15 Januari 2018

Alpasimiy.com

Google khusus salafy:
http://alpasimiy.com/mesin-pencari

Bagikan Komentarmu