2⃣ SOMBONG DAN ENGGAN MENERIMA KEBENARAN

Al-Imam Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata, “Bukanlah orang yang berakal itu adalah orang yang sekedar mengetahui kebaikan dan keburukan, tetapi orang yang berakal yang sebenarnya adalah orang yang jika dia melihat kebaikan dia mengikutinya, dan jika melihat keburukan dia menjauhinya.”

📖 Al-Hilyah, 8/339

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab al-Fawaid hlm. 155 mengatakan,

“Diantara tanda-tanda kebahagiaan dan keberuntungan adalah: Seorang hamba itu setiap kali bertambah ilmunya bertambah pula sifat rendah hatinya dan kasih sayangnya. Setiap kali bertambah amalnya, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya. Setiapkali bertambah umurnya, semakin berkurang ketamakannya, setiap kali bertambah hartanya, bertambah pula kemurahan dan kedermawanannya, setiapkali bertambah kemuliaan dan kedudukannya, semakin bertambah pula kedekatannya dengan manusia dan semakin semangat mencukupi kebutuhan mereka dan merendah kepada mereka.

Sedangkan tanda-tanda kecelakaan adalah: Setiap kali bertambah ilmunya, semakin bertambah pula kesombongan dan keangkuhannya. Setiap kali bertambah amalnya, dia semakin membanggakan dirinya dan merendahkan orang lain dan semakin berprasangka baik terhadap dirinya. Setiap kali bertambah umurnya, semakin bertambah ketamakannya. Setiap kali bertambah hartanya, semakin bertambah pula kebakhilan dan kekikirannya. Setiap kali bertambah kemuliaan dan kedudukannya, semakin bertambah pula kesombongan dan keangkuhannya. Dan perkara-perkara ini adalah ujian dari Allah yang dengannya Dia menguji hamba-hamba-Nya. Maka dengan ujian ini suatu kaum berbahagia dan dengannya kaum yang lainnya celaka.”

Abu Darda’ radhiyallahu anhu berkata, “Tanda kebodohan itu ada tiga; Ujub, banyak berbicara dalam perkara yang tidak ada manfaatnya, dan melarang dari suatu perkara, tapi dia sendiri justru melakukannya.”

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Ujub adalah penyakit akal pikiran.”

Yang lainnya berkata, “Ujub terhadap diri sendiri adalah tanda seseorang itu akalnya lemah.”

Mereka berkata, “Tidaklah engkau melihat orang memiliki sifat ujub, kecuali dia akan mencari kepemimpinan.”

📖 Lihat: Jami Bayani Ilmi, 1/570-571

Seseorang harus mengetahui sepenuhnya bahwasanya Allah selalu mengawasi dirinya, mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa-apa yang disembunyikan oleh hati, dan bahwasanya hati para hamba itu ada diantara dua jari dari jari jemari ar-Rahman yang Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.

Ibnu Abi Hatim rahimahullah menyebutkan dengan sanadnya dalam kitab Az-Zuhd hlm. 49 dari Al-Hasan al-Bashri rahimahullah dia berkata, “Sesungguhnya hati lebih mudah terbolak-balik dibandingkan bulu pada hari yang penuh badai.”

Semoga Allah mengaruniakan kepada kami dan kalian husnul khatimah.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

✒ Ditulis oleh: Abdullah bin Abdurrahim al-Bukhari

📅 3 Dzulhijjah 1429 H

https://t.me/sa3afi9a/8301