Yang terkena virus corona orang katakan rajawali, saya termasuk mengangkat jenazahnya, termasuk shalati lagi, maka saya bertetangga lagi, maka di shalati di masjid saya, mengapa kau takut dengan penyakit corona?, takutlah kepada Allah, karena Allah lah yang memberikan penyakit, Allah lah yang mematikan bukan corona,

Kalau ada orang bilang yang mati karena corona, ini adalah imannya rusak, dia mati karena ajalnya, karena ajalnya Allah datangkan corona

InsyaAllah shalatlah di mesjid, kalau ada orang yang melarang ke mesjid, ini orang rusak otaknya

BANTAHAN :

Ini kata-kata yang menunjukkan kesombongannya, karena manusia tidak tahu ajal seseorang, jangan jangan dia ajalnya dengan wabah pandemi sekarang ini, wallahu’alam kita tidak tahu. Seharusnya seorang muslim itu beriman kepada taqdir

Benar, kita menyatakan bahwa ajal itu ditangan Allah Subhanahu wa ta’ala,

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya (Al Araf : 34)

Kita semua muslim beriman, tetapi kita bukan jabriyyah aliran yang menafikan usaha

Jabriyyah adalah kelompok yang berkeyakinan tidak perlu usaha dan sebab, dengan dalih apa kata taqdir

Sesungguhnya usaha tidak menafikan kepada taqdir, kita semua beriman kepada taqdir tetapi kita harus berupaya dan terus berusaha

Kalau kita beralasan taqdir, kemudian tidak berusaha dan tidak berupaya, itu adalah aliran jabriyyah, bukan ahlus sunnah

Qodariyyah adalah kelompok yang mengingkari taqdir dan bersandar penuh kepada sebab, sedangkan jabriyyah yang berkata kami beriman kepada taqdir maka tidak perlu usaha

Salahnya bukan kata kata beriman kepada taqdirnya, salahnya adalah kalimat ga perlu berupaya, ga perlu berusaha

Beberapa orang yang mirip kalimatnya dengan jabriyyah yang menyatakan tidak perlu kita takut corona

Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ

“Larilah dari penderita kusta seperti engkau lari dari singa”
(HR. Muslim)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang mengajarkan untuk menjauh

Juga dalam hadits yang shahih yang menyatakan kalau wabah sudah melanda sudah melanda satu kota satu negeri maka jangan kalian datangi, disuruh untuk menghindar jangan mendatanginya

Sedangkan orang yang ada ditempat yang sudah terkena musibah, maka jangan keluar ke tempat lain, khawatir dia sudah terkena penyakit tersebut dan menyebar ke tempat yang lain

Maka kata Syaikh Al Albani rahimahullah dan kata para ulama, sesungguhnya sebabnya dari dua kalimat dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam tadi sama, yang tidak terkena wabah jangan mendatangi tempat yang terkena wabah, juga orang yang dalam keadaan di tempat terkena wabah jangan keluar, sesungguhnya sebabnya sama, jangan sampai virus itu menyebar lebih luas, maka ini jelas usaha dan upaya, itu baru satu masalah

Ada masalah lain, kita harus menaati penguasa, apalagi penguasa itu memerintahkan dengan perintah yang ma’ruf, perintah yang baik, yakni perintah agar kita terjaga dari wabah covid-19.

Itu perintah yang baik masyaAllah, pemerintah yang sayang kepada rakyatnya, kemudian dikatakan dengan kalimat-kalimat yang jelek, tidak perlu menjauh, ini namanya kebodohan

Sungguh ucapan orang yang menyatakan orang orang yang lari dari masjid karena corona, berarti otaknya rusak, maka para ulama terdahulu menyatakan “termasuk udzur adalah untuk tidak pergi ke masjid ketika dikhawatirkan ada wabah bencana penyakit”

Jangan sampai berkata “shalat khauf dalam keadaan perang kita shalat, kenapa dalam keadaan pandemi saja kita ga shalat ke masjid ?” beda jauh antara keduanya

Adapun perang kita tahu musuhnya, terlihat jelas nyata dihadapan kita, maka ketika shalat yang satu shaf berdiri, satu shaf ruku’, sujud, yang berdiri berjaga-jaga melihat musuh

Kalau virus penyakit, apakah terlihat ? Kemudian yang satu berjaga jaga agar covid-19 jangan masuk ? Justru virus ini tidak terlihat

Demikian pula yang berikutnya, bahwasannya wabah penyakit dalam keadaan menyebar tidak tentu arahnya, kita harus dan disunnahkan untuk menghindar

Lagipula shalat khauf juga bermacam macam bentuknya, diantaranya shalat dalam keadaan berlari, menghindar dari bahaya. Boleh shalat keadaan berlari, itu juga shalat khauf

Sekarang kita tidak perlu sejauh itu dalam keadaan berlari, shalat dirumah dalam keadaan dikhawatirkan diluar sana, apalagi berkumpulnya manusia yang banyak bisa jadi salah satu sebab terkena virus, maka ratusan orang akan terkena

QODARIYAH DAN JABRIYAH SEBAGAI PEMIKIRAN

Ditulis oleh Al Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

Melalui uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa qadariyah dan jabriyah adalah sebuah pemikiran yang mungkin saja dimiliki individual (orang per orang). Mungkin kita kesulitan untuk menemukan sebuah lembaga atau gerakan resmi yang terang-terangan mengusung paham qadariyah maupun jabriyah. Maka dari itu, setiap muslim dan muslimah haruslah waspada terhadap faktor-faktor penyebab kesesatan.

Faktor Penyebab Kesesatan

Ada beberapa faktor penyebab munculnya pemikiran qadariyah dan jabriyah. Di antaranya adalah:

1. Mengiaskan perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala dengan perbuatan makhluk.

Mereka menganggap perbuatan baik pada makhluk adalah baik pada perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka juga beranggapan, sesuatu yang tercela pada perbuatan makhluk berarti tercela juga pada perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala. Menurut mereka, keadilan adalah terpuji, kezaliman adalah tercela. Lalu, mereka menafsirkan keadilan dan kezaliman yang ada pada makhluk sama berlakunya pada hak Allah subhanahu wa ta’ala.

Misalnya, kemaksiatan dan kekufuran. Menurut mereka, perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan kemaksiatan dan kekufuran adalah kezaliman, sebab hal itu adalah kezaliman jika dilakukan oleh manusia.

Syaikh Shalih Alu Syaikh berkata, “Hal ini hakikatnya merupakan faktor terbesar munculnya kesesatan dalam masalah ini (takdir dan qadha).”

2. Tidak dapat membedakan antara iradah syar’iyah dengan iradah kauniyah.

Mereka beranggapan, iradah syar’iyah dan iradah kauniyah adalah dua hal yang sama. Mereka mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak mencintai adanya kekufuran, maka tidak mungkin kekufuran itu dapat terjadi pada makhluknya.

3. Memberikan ruang bagi akal dalam hal menentukan baik dan buruk.

Menurut mereka, perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala yang dinilai oleh akal baik, maka baik. Jika dinilai buruk oleh akal, perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala tersebut pun buruk.

4. Membahas tentang perbuatan-perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala, namun tidak disertai sikap tunduk dan patuh terhadap kemauan Allah subhanahu wa ta’ala.

Mereka selalu bertanya-tanya,

Mengapa Allah subhanahu wa ta’ala berbuat demikian?

Mengapa Allah subhanahu wa ta’ala melakukan hal tersebut?

Mengapa Allah subhanahu wa ta’ala menentukan seperti ini?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (al-Anbiya’: 23)

Asy-Syaikh Shalih Alu Syaikh mengatakan, “Oleh karena itu, bentuk pertanyaan ‘mengapa’ adalah sebab munculnya kesesatan kalangan jabriyah, qadariyah, serta kelompok yang ragu dan bimbang. Mereka mengingkari syariat, tersesat, dan terjauhkan, karena membahas tentang takdir (secara batil).”
(Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah, Shalih Alu Syaikh, hlm. 541—546)

Hanya dengan mengembalikan kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah serta pemahaman ulama salaf, permasalahan takdir akan menjadi terang, jelas, dan mudah. Sesungguhnya, tidak ada kemudahan dan petunjuk melainkan yang dimudahkan dan ditunjukkan Allah subhanahu wa ta’ala, Rabbul alamin.

Wal ‘ilmu ‘indallah.

https://t.me/inifaktabukanfitnah/4278

Sumber :

Qadariyah dan Jabriyah sebagai Pemikiran