📢📚💥✋🏻
*TA’ASHUB ITU TERCELA, BAHKAN JALANNYA ORANG-ORANG KAFIR!*

✒📂 Oleh: Fadhilatusy Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

📬 *Pertanyaan:* Kami mohon anda menjelaskan tentang bahaya ta’ashub (fanatik) terkhusus di hari-hari ini dimana sebagian pelajar berta’ashub kepada sebagian tokoh individu, berloyalitas dan memusuhi karenanya. Kami memohon anda berkenan memberikan sepatah kata, mudah-mudahan Allah memberikan manfaat dengannya.

🔓 *Jawaban:* Ta’ashub itu tercela, bahkan jalannya orang-orang kafir.

👎🏼 Ta’ashub dan mengikuti hawa nafsu termasuk jalan orang-orang jahiliyyah dan jalan kaum Tartar sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Seorang mukmin itu hendaknya selalu berupaya mengenali kebenaran dan berpegang teguh dengannya walaupun kebenaran ini diselisihi oleh orang-orang yang telah menyelisihinya. Selamanya, jangan pernah berta’ashub baik kepada kesalahan fulan atau fulan, pemikiran fulan dan fulan. Tetapi berpegang teguhlah dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah ‘alaihish shalatu was salam, berloyalitas dan siap memusuhi di atas perkara yang telah dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi was salam setelah mengetahui bahwa Muhammad datang dengan perkara tersebut dan bukan karena sangkaan-sangkaan semata. Jadi ia tahu bahwa perkara ini telah dibawa oleh Muhammad ‘alaihish shalatu was salam. Perkara tersebut telah ditunjukkan oleh Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi was salam serta diikuti oleh salafush shaleh.

📢 Ibnul Qayyim berpandangan bila engkau telah mengetahui sebuah nash dan memahaminya yaitu dalam kondisi engkau belum mengetahui ada seorangpun yang mengatakannya, maka wajib bagimu berpegang teguh dengan nash tersebut. Dan jika engkau tahu ada orang yang telah mengatakannya, maka akan menambah engkau semakin kuat dan yakin.

✋🏻 Namun bila engkau tidak mendapati seorang pun yang mengatakannya, maka itu bukanlah syarat. Yang terpenting, timbangan seorang muslim itu adalah firman Allah dan sabda Rasulullah.

العلم قال الله قال رسوله قال الصحابة ليس بالتمويه

“Ilmu itu ialah ucapan Allah, ucapan Rasul-Nya, dan ucapan para shahabat, bukan kepalsuan.”

💥 Adapun orang jahil yang datang lalu memancangkan dirinya sebagai seorang imam, dan berbicara di dalam kebatilan dan kesesatan lantas engkau berta’ashub dengannya, maka inilah diantara perbuatan jahiliyah. Bahkan meskipun seorang imam yang berbuat kesalahan, seandainya engkau tetap berta’ashub kepadanya, sungguh pada dirimu terdapat sifat jahiliyah

إنا وجدنا آباءنا على أمة وإنا على آثارهم مقتدون

“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, maka di atas jejak-jejak mereka kami berteladan.”

🔥 Ta’ashub ini termasuk dari keadaan orang-orang jahiliyah dan perbuatan mereka. Adapun seorang muslim yang jujur, maka wajib membersihkan dirinya dari sikap ta’ashub dan dari menyelisihi perkara-perkara yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi was salam. Ta’ashub itu tercela. Tidaklah berta’ashub kecuali orang yang terganggu sarafnya atau seorang yang hina. Orang yang terganggu sarafnya yaitu orang gila, orang yang tertimpa penyakit saraf atau orang dungu. Tidaklah berta’ashub kecuali orang dungu atau orang yang terganggu sarafnya.

☝ Maka seorang muslim itu wajib membersihkan dirinya sehingga tidak menjadi orang dungu dan tidak pula menjadi orang gila, yang terganggu sarafnya. Jadilah orang yang berakal yang mencari kebenaran. Bila telah mengetahui kebenaran, maka peganglah kebenaran itu meskipun seluruh manusia di muka bumi menyelisihinya.

❌ Jangan berta’ashub, tidak kepada imam, makmum, orang yang jujur, apalagi kepada pendusta, tetapi berpegang teguhlah hanya dengan kebenaran.

📚 Sumber:http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=107079#entry717563

📝 Alih bahasa : Syabab Forum Salafy

💻🌐 WSI √ http://forumsalafy.net/taashub-itu-tercela-bahkan-jalannya-orang-orang-kafir/
◎◎◎◎◎◎◎◎◎
📖 *Arsip Fawaid Ilmiyah:*
https://t.me/fawaidsolo

●●●●●●●●●