TATKALA KEDUANYA TELAH BERUSIA SENJA
(Sebuah renungan untuk anak dan orangtua)
Transkrip potongan ceramah di Masjid Agung Nurul Huda Sumbawa Besar

Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifudin Hafizhahullah

Kalau orang tuanya masih muda, masih sehat masih kuat belum merasakan yang namanya anak.
Masih bisa mandiri.

Tetapi rasakan, hayati ketika sudah menjadi orang yang tua.
Semakin sepuh, semakin renta, semakin lemah, semakin tak berdaya.

Apalagi memerlukan perawatan khusus.
Apalagi perlu mendapatkan perhatian khusus dari anak anaknya.

Dalam kondisi orang tua yang seperti itu, hanya anak sholeh yang memberikan faidah kepada orang tuanya.

Hanya anak sholeh yang berbakti kepada orang tuanya.

Dia akan merawat orang tuanya
Dia akan berikan kasih sayang penuh ke orang tuanya
Hanya anak yang sholeh.

Dalam kondisi seperti itu umumnya orang tua sudah tidak lagi memikirkan apapun
Dunia sudah kenyang dia rasakan
Sebagian pihak, yang namanya harta benda melimpah

Yang dia perlukan saat itu hanyalah perhatian seorang anak
Dikala dia semakin tua, tertatih tatih langkahnya
Dikala semakin renta di atas pembaringan nggak bisa apa apa.
Siapa yang dia cari?

Jawabannya, orang tua yang jujur akan mengatakan:
Anakku
Mana anakku, mana putraku, mana putriku.
Saya perlu perawatan
Saya perlu perhatian
Saya perlu curahan kasih sayang
Saya telah lemah
Saya telah renta
Saya telah sepuh
Saya tidak bisa berbuat apa apa.

Bisa dibayangkan kaum muslim rahimakumullah.

Dalam kondisi yang seperti itu. Yang ada di samping dia hanya pembantu.
Pembantu yang merawat dia,
🚿 yang mandikan dia,
🚰 yang menceboi dia,
🍽 yang kasih makan dia .

🛫💼🎓
Anak anaknya pada sibuk semuanya
Yang ini menjadi orang ini
Yang ini menjadi orang itu
Yang ini di luar Jawa
di luar Sumbawa
di luar negeri
segala macam dengan kesibukan masing-masing
Yang di rumah hanya seorang pembantu

Rindu rasanya ketemu dengan anak
Kangan rasanya ketemu dengan anak

☎️Coba telepon
❌Ditelpon nggak diangkat
Sibuk. Panggilan dialihkan
📞Terangkat, bahagianya orang tua. Diangkat oleh anaknya

Bagaimana kabarmu Nak ?
Sehat Pak.
Kapan kamu kemari Nak ?
Sibuk Pak. Saya nggak punya waktu lagi untuk pulang ke Sumbawa Pak.
Ini kesibukannya … diterangkan sama dia kesibukan-kesibukan, planning-planning dan segala macamnya.

Orang tua yang demikian hanya bisa menghela napas.
Hhhhhhhh.

Dia mengelus elus dada. 💦💦💦
Bapak kangen. Ayah pingin kumpul sama anak anak.

Yang ini, ooh nggak bisa Pak, lagi ada meeting.

Yang ini, ooh susah Pak lagi banyak pekerjaan di luar. Wah lagi di luar negeri Pak. Wah bagaimana Pak. Bapak perlu apa. Akan kami berikan semuanya
Ada yang kurang Pak ? Kami transfer. Ada yang kurang Pak?
Rumahnya perlu apa ? Kurang apa kurang apa ?

Orang tua yang jujur akan mengatakan:
Bapak sudah tua. Bapak hanya butuh kamu. Kangen sama kalian.

Untuk apa harta yang melimpah ketika hati kosong.
Untuk apa rumah yang mewah ketika tidak ada isinya ?
Apa yang dirasakan oleh orang tua yang seperti ini ?
HAMPA….. KOSONG…..

Dia bangun yang dia saksikan pembantu.
Dia ke ruang tengah kosong. 🖼
Hanya kenangan kenagan masa lalu. di ruangan inilah dulu anak anakku bersenda gurau, bermain main, mengisi rumah.
ITU MASA LALU.

Sekarang Hampa.
Hanya anak sholeh yang begitu perhatian kepada orang tuanya.

Kesibukan apapun karir apapun dunia apapun. Semua akan dia lepaskan, dia korbankan hanya untuk kedua orangtua.
Tidak bakal mungkin dia meninggalkan orang tua yang renta seperti itu, yang lemah seperti itu.
Dalam pembaringan seperti itu. Dia akan temani orang tuanya.
Dia akan isi hari hari orang tuanya dengan upaya membahagiakan mereka

Hanya anak yang sholeh yang berbakti kepada orang tuanya.
Itu kemaslahatan duniawi, yang didambakan oleh semua orang tua yang mulai lemah.
Resapi itu.

Join & share
http://T.me/radioislamNTB