Tanya:
Mana yang lebih utama memilih pondok yang sederhana diatas sunnah dengan sekolah yang berbasis kurikulum nasional, sekolah terpadu? Apa nasehat ustadz untuk mereka yang masih memilih ijazah, atau mencari gelar ijazah?

Jawab:
Oleh Al Ustadz Muhammad As Sewed hafizhahullah

Ikhwani fiddin a’azakumullah, masih terus dibahas perkara yang seperti ini? Padahal jelas ketika orang mencari ilmu, seorang tua mengajarkan anaknya untuk mencari ilmu, semuanya dengan tujuan ilmu, bukan ijazah. Kalau dapat ijazah, walhamdulillah. Kalau tidak, tidak apa-apa. Tapi ilmu harus dicari, tidak dapat ilmu bahaya. Sehingga yang kita sayangkan, pada beberapa ikhwah, beberapa mereka-mereka yang mengaku sebagai ahlussunnah, tetapi memaksakan diri untuk mendapatkan ijazah.

Saya katakan memaksakan diri, karena sekian banyak pelanggaran…, pelanggaran…, pelanggaran…. Sudah ketahuan sama masyaikh kibar, cari masyaikh yang majhul. Dapat Abdul Hadi Al Umairy, dituntun ke Grenjeng, suruh lihat! Ada mukhalafah? Balik, langsung lapor, wallahi, wabillahi, watallahi, tidak ada sedikitpun pelanggaran sunnah. Masya Allah, berarti dia bisa bahasa Indonesia kayaknya ya? Karena bisa baca kurikulumnya bahasa Indonesia semua.

Orang ini saya katakan terlalu lancang bersumpah dengan kalimat wallahi, watallahi, wabillahi. Menyatakan di Grenjeng tidak ada penyimpangan sedikitpun. Padahal mereka sendiri mengakui bahwa

“Iya, yang ini kita tidak ajarkan, karena ada penyimpangannya. Maka kita tidak ajarkan, hanya kita sampaikan pada mereka nanti kalau ujian, dapat (nilai, -red) 60 paling sedikit”

Maknanya suruh belajar bukan? Maknanya suruh belajar, a’udzubillahi minasyaithonirrojim. Ini namanya hiyal, tipu daya., makar.

“Bukan diajarkan koq. Wah Syaikh Abdul Hadi, kami tidak mengajarkan, yang begini begini, kami tidak mengajarkan…”

Tidak dilanjutkan, ini mudallis. Tidak dilanjutkan, kalau tidak diajarkan, terus bagaimana? Di isi, bawa ke rumah-rumah kalian, bukunya dibagikan. Bawa ke rumah kalian, pokoknya nanti kalau ulangan, kalian akan dapat enam. Yang pingin dapat enam, pasti belajar, tidak mungkin tidak belajar, iya tha?

“Bidadari, puteri…apalagi, belajar ini belajar itu” Astaghfirullahal’adzim, belajar ilmu kalam dan sebagainya. Maka saya katakan:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukup seorang dikatakan pendusta, ketika dia menyampaikan semua yang dia dengar” (Muqaddimah Shahih Muslim. Bab: Larangan Menyebarkan Setiap Apa Yang Ia Dengar)

Abdul Hadi Al Umairy, datang ke Grenjeng sana, mendengarkan dari mereka, percaya, langsung lapor kepada Syaikh Rabi’, begini…begini…tidak ada sedikitpun penyimpangan. Masya Allah,  itu namanya kadzib, kenapa? كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ cukup dia dengar, dia lapor, tidak menyelidiki, tidak tanya kepada yang lain, tidak kroscek, tidak sama sekali, tidak bawa paling tidak bukunya untuk diperiksa.

Saya pernah bertanya kepada Syaikh Rabi’, atau kita ya, pernah bertanya kepada Syaikh Rabi’ tentang bukunya Ahmad Surkati. Tidak langsung dijawab oleh Syaikh Rabi’. Eh, orang koq bisanya sepintas kilas langsung menyebutkan “bersih”. Padahal kita sampaikan (buku Ahmad Surkati, -red) ditunggu sampai berapa minggu atau berapa bulan, baru ketika selesai membaca, baru dijawab. “Hadza rojul muhnarif”, kata Syaikh Rabi’, ini orang munharif.

Nah, buku yang sama ditunjukkan kepada Ali Hasan, sebelum syaikh Rabi’ “Bagaimana syaikh, buku ini? penulisnya bagaimana? Ahmad Surkati”

“Aku tidak menyatakan sekedar salafy, aku katakan hadza rojul syaikhus salafyyin”

Buku yang sama dikasihkan Ali Hasan dikatakan syaikhus salafyyin, dikasihkan Syaikh Rabi’ hadza munharif. Thayyib, jauh sekali antara keduanya.

http://www.thalabilmusyari.web.id/2015/06/nasehat-untuk-mereka-yang-masih-memilih.html#!

Bagikan Komentarmu