🌍 https://t.me/AKSI_AudioKajianSalafyIndonesia

*Cerminan Shalihah*

🌺🌹 *UMMU SYARIK AL-‘AMIRIYAH*

✍🏻 *Al-Ustadzah Ummu* *’Abdirrahman bintu ‘Imran*

Negeri Makkah bersinar dengan datangnya cahaya nubuwwah. Merasuk dalam *kalbu siapa pun yang dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menerima keimanan.*

Satu per satu mereka menyatakan beriman.

*Di antara mereka ada seorang wanita cantik dari Quraisy. Keislamannya menggiring kaumnya untuk juga menerima Islam.*

Dialah Ghuzayyah bintu Dudan bin ‘Auf bin ‘Amr bin ‘Amir bin Rawahah bin Hujair bin ‘Abd bin Ma’ish bin ‘Amir bin Lu’ai al-Qurasyiyah al-‘Amiriyah, dikenal dengan kuniahnya, Ummu Syarik. Dia istri Abul ‘Akar bin Sumai bin aI-Harits al-Azdi ad-Dausi. Sebagaimana halnya istrinya, *Abul ‘Akar pun beriman.*

Seringkali Ummu Syarik diam-diam menemui para wanita Quraisy. *Diajaknya wanita-wanita itu untuk masuk Islam.* Akhirnya gerak-gerik Ummu Syarik pun tercium oleh penduduk Makkah. *Mereka segera menangkap Ummu Syarik.*

*“Kalau bukan karena kaummu, sungguh kami akan bertindak padamu❗Akan tetapi, kami akan menyerahkanmu kepada kaummu* ❗” ancam mereka.

Sebagaimana halnya para sahabat yang Iain pada masa itu, *Ummu Syarik mendapatkan cobaan berat karena keimanannya.* Ummu Syarik mengisahkan penyiksaan itu:
Keluarga Abul ‘Akar mendatangiku, lalu bertanya, *“Sepertinya kamu juga masuk agama Abul ‘Akar*❗”

*“Benar, demi Allah*❗ *Aku di atas agamanya*❗” jawabku pasti.

*“Baiklah*❗ *Demi Allah, kami akan menyiksamu dengan siksaan yang pedih*❗” mereka mulai mengancam.

Mereka pun membawaku pergi dari kampung halaman kami di Dzul Khalashah. Meneka naikkan aku di atas unta mereka yang paling jelek, tak berpelana, lagi lamban. Rombongan kami terus berjalan, *sementara tak setetes air pun mereka berikan padaku.* Hingga saat tiba tengah hari dan kami benar-benar di bawah terik matahari yang panas menyengat, kami berhenti di suatu tempat.

Mereka memasang tenda dan berteduh di bawahnya untuk beristirahat. *Sementara itu, diriku mereka biarkan terikat di bawah teriknya matahari padang pasir, sampai-sampai hilang rasanya akal, pendengaran, dan penglihatanku. Selama tiga hari berturut-turut mereka perlakukan aku seperti itu.*

Pada hari yang ketiga, mereka mengatakan padaku, *“Tinggalkan keyakinanmu itu*❗”

Aku tidak mampu memahami ucapan mereka kecuali sepatah demi sepatah kata. *Kuangkat jariku ke langit untuk mengisyaratkan tauhid kepada Allah سبحانه وتعالى Akhirnya aku dibiarkan begitu saja, sementara aku sudah benar-benar kepayahan.*

Tiba-tiba, ada rasa dingin di dadaku. *Ternyata sebuah timba berisi air. Kuraih timba itu dan kuminum seteguk,* lalu timba itu ditarik dariku. Aku pun mencoba melihat, *ternyata timba itu tergantung di antara Iangit dan bumi.*

Kemudian timba itu dijulurkan kembali kepadaku *dan aku pun minum seteguk lagi,* lalu diangkat kembali. Kulihat lagi, timba itu tergantung antara langit dan bumi. Pada kali ketiga timba itu terjulur, *aku minum hingga puas. Kuguyurkan air yang tersisa ke atas kepalaku, seluruh badan dan pakaianku.*

*Orang-orang itu keluar dari tenda. Bukan main terkejut mereka melihat keadaanku.*

*“Dari mana kau dapatkan air ini, hai musuh Allah*❓❗” hardik mereka.

*“Musuh Allah itu bukanlah aku, melainkan orang-orang yang menyelisihi agama-Nya*❗” jawabku. “Adapun pertanyaan kalian, *dari mana air ini kudapatkan, ini dari Allah سبحانه وتعالى sebagai rezeki yang Allah سبحانه وتعالى karuniakan padaku*❗”

Bergegas mereka memeriksa geriba dan tempat air mereka. *Ternyata semua masih terikat dan tak satu pun terbuka.*

*Melihat kenyataan itu, mereka pun menyatakan, “Kami bersaksi bahwa Rabbmu adalah Rabb kami pula. Dan kami bersaksi bahwa Yang memberikan rezeki kepadamu setelah kami perlakukan kamu seperti ini adalah Yang mensyariatkan Islam*❗”

*Mereka semua menyatakan masuk Islam dan seluruhnya berhijrah. Sekarang mereka mengakui keutamaan Ummu Syarik atas mereka dan apa yang telah Allah سبحانه وتعالى berikan kepadanya.*

*Ummu Syarik al-‘Amiriyah, semoga Allah سبحانه وتعالى meridhainya….*

_Wallahu a’lamu bish-shawab._

*Sumber Bacaan:*
✏ *_AI-Ishabah,_* al-Hafizh lbnu Hajar al-‘Asqalani (8/4I7-420)

✏ *_AI-Isti’ab,_* al-lmam lbnu ‘Abdil Barr (2/586)

✏ *_Ath-Thabaqatul Kubra,_* aI-lmam Ibnu Sa’d (1O/l48-l52)

🌏📕 *Sumber* ||
Majalah Asy Syariah Edisi 93